Oleh: Dr. KRA Hasan Karman SH., MM.

Buku Sejarah Indonesia sejak SD mengajarkan penyebar agama Islam di Indonesia adalah bangsawan dari Gujarat (India). Sampai selesai kuliah, penulis masih percaya demikian.

Setelah Orde Baru runtuh dan (almarhum) Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) menjadi presiden, muncullah “pengakuan” cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang fenomenal dan “nyeleneh” ini bahwa dirinya masih berdarah Tionghoa, dan memiliki silsilah marga Tan (Chen). Sebelumnya jarang atau hampir tidak ditemukan literatur Indonesia yang menyingkapkan bahwa Wali Songo (Syekh Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati) adalah berasal dari etnis Tionghoa.

Pada tahun 1407, di Sambas terdapat Komunitas Tionghoa Muslim di bawah pimpinan Haji Gan Eng Tju alias Arya Teja bermazhab Hanafi. Tahun 1463, Laksamana Cheng Ho, seorang Hui dari Yunan, atas perintah Kaisar Cheng Tsu alias Jung Lo (kaisar ke-4 Dinasti Ming) selama tujuh kali memimpin ekspedisi pelayaran ke Nanyang (Asia Tenggara). Beberapa anak buahnya ada yang kemudian menetap di Kalimantan Barat dan membaur dengan penduduk setempat. Mereka juga membawa ajaran Islam yang mereka anut.

Di era reformasi ini, banyak kebenaran yang perlu disingkapkan agar bangsa Indonesia tidak lagi terbelenggu oleh prasangka dan diskriminasi terhadap etnis Tionghoa yang sebenarnya juga memiliki andil dalam membangun negeri ini. Tidak ada salahnya pembaca menyimak sedikit pemahaman mengenai penyiar Islam sebenarnya di bumi nusantara yang penulis sarikan dari berbagai sumber.

Demak: kerajaan Islam pertama nusantara
Pada dekade-dekade terakhir abad ke-15, berdiri Kerajaan Demak yang berlangsung dari tahun 1475 sampai 1568. Pendiri Kerajaan Demak ini adalah putra dari Haji Chen Xuanlong (Tan Swan Liong) dari Palembang (Sumatera Selatan), yang pada masa itu merupakan daerah permukiman komunitas Tionghoa yang besar dan mayoritas beragama Islam. Nama putra Haji Tan Swan Liong adalah Chen Jinwen alias Panembahan Tan Jin Bun atau Raden Patah/Arya (Cu-Cu) Sumangsang atau Prabu Anom. Portugis menunjuknya sebagai Pate Rodin Senior. Menurut Tome Pires, seorang penjelajah Portugis, Panembahan Tan Jin Bun yang lebih dikenal sebagai Raden Patah (Fatah) ini adalah seorang “persona de grande syso” (seorang tokoh yang sangat bijak), seorang “cavaleiro” (bangsawan/kesatria terhormat). Prof Slamet Mulyana menjelaskan makna Jinwen atau Jin Bun adalah “orang kuat”.

Elite penguasa Kerajaan Demak mayoritas adalah keturunan Tionghoa. Sebelum kedatangan dan terjadinya kolonisasi oleh bangsa Eropa, perkawinan campur antara etnis Tionghoa dan Jawa adalah hal yang biasa terjadi. Dr Pigeaud dan Dr de Graaf melukiskan keadaan abad ke-16 sebagai berikut: “Di kota-kota pelabuhan Pulau Jawa, elite penguasa mayoritas terdiri atas keluarga Tionghoa, di mana di antara anggota keluarga yang pria mengambil wanita Jawa sebagai istri mereka.”

Berbagai sumber sejarah Jawa juga mengungkapkan bahwa pada abad ke-16 banyak sekali orang Tionghoa yang tinggal di kota-kota sepanjang pesisir pantai utara Pulau Jawa. Di luar daerah Demak, orang Tionghoa banyak yang sudah menetap di Cirebon, Lasem, Tuban, Gresik (Shi Cun), dan Surabaya (Shi Shui). Kebanyakan Tionghoa muslim ini juga memiliki nama Arab atau nama Islam.

Salah seorang cucu Raden Patah (Tan Jin Bun/Chen Jinwen) memiliki ambisi untuk menyamai Sultan Ottoman dari Kerajaan Turki. Menurut de Graaf dan Pigeaud, sultan terakhir dari Kerajaan Demak, Tan Muk Ming/Chen Mumin alias Sunan Prawata, berkata kepada Manuel Pinto, bahwa dirinya sedang berjuang keras untuk menjadi “o segundo Turco” (Sultan Turki kedua) setara dengan kebesaran Sultan Sulaiman I dari Ottoman. Terbukti bahwa selain naik haji, ia juga mengunjungi Turki.

Tokoh-tokoh penyebar Islam masa lalu
Sejumlah sumber informasi Jawa menekankan bahwa sultan-sultan Demak adalah keturunan Tionghoa. Terlalu panjang untuk menyebutkan satu per satu nama tokoh bersejarah Tionghoa di kerajaan Islam Jawa, karena jumlahnya sangat banyak. Namun yang terpenting di antaranya adalah Raden Hussein (Pang Jinshan/Bong Kin San, sepupu Raden Patah atau Chen Jinwen), Sunan Bonang (An Wen’an/An Bun Ang), Sunan Drajat (Pang Dajing/Bong Tak Keng, putera Sunan Ampel alias Rahmat Pang Suihe/Bong Swie Ho), Sunan Kalijaga (Gan Xichang/ Gan Si Chang), Sunan Kudus (Jaffar Zha Dexu/Ja Tik Su), Haji Maulana Ifdil Hanafi alias Chen Yinghua/Tan Eng Hoat, Indrasena komandan terakhir Pasukan Bersenjata Sunan Giri, Pangeran Hadiri alias Sunan Mantingan yang merupakan suami Ratu Kalinyamat, Ki Rakim, Nyi Gede Pinatih (Shi Taining/Sie Tay Nio), ibu Raden Paku dan putri dari Laksamana Shi Jinqing/Sie Chin Ching, yang dipertuan oleh masyarakat Tionghoa di Palembang. Demikian juga Putri Chen Wangtian/Tan Ong Tien, yakni putri Haji Chen Yinghua yang merupakan istri Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah Du Anbo/Toh A Bo), pendiri Kesultanan Cirebon, Cekong Mas (dari keluarga Han), makamnya terdapat di Masjid Prajekan dekat Situbondo, Jawa Timur, dan dianggap sebagai tempat ziarah yang suci, Adipati Astrawijaya, yang diangkat sebagai wedana oleh Kompeni Hindia Belanda, namun berpihak kepada para pemberontak Tionghoa di Semarang yang melawan Belanda pada tahun 1741, dan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Secodiningrat (Chen Jinxing/Tan Jin Seng). Menurut Prof. Slamet Mulyana, dari garis keturunan patrilinealnya, Sunan Giri merupakan cucu dari Rahmat Wang Suihe, seorang muslim Tionghoa dari Provinsi Yunnan, Tiongkok, yang menjabat sebagai Gubernur Champa (kini Vietnam), sebelum bermigrasi ke Jawa di mana ia menjadi kepala koordinator masyarakat Tionghoa di Asia Tenggara.

Pengaruh arsitektur Tiongkok tampak jelas dalam desain masjid-masjid di Jawa. Muslim dari Mazhab Hanafiyah-lah yang pertama kali mendarat di Sumatera Selatan dan Jawa dari daratan Tiongkok pada masa Dinasti Yuan dan Ming. Prof Mulyana berpendapat bahwa jika Islam di Pantai Utara Jawa berasal dari Malaka atau Sumatera Timur, maka pasti mereka merupakan Mazhab Syafii atau Shiah, namun dalam kenyataannya tidak demikian. Ia menekankan bahwa sampai abad ke-13, hanya ada Mazhab Hanafi di Asia Tengah, Tiongkok, India Utara, bagian-bagian tertentu di Timur Tengah/Maghreb (Islam Afrika Utara) dan Turki.

Gelombang emigrasi besar-besaran dari Tiongkok ke Sumatera Selatan, Jawa, dan wilayah lain Asia Tenggara terjadi sejak tahun 1385, 17 tahun setelah kekuasaan Dinasti Ming. Jauh sebelumnya, Champa telah dikuasai oleh Nasaruddin, seorang jenderal muslim yang berasal dari pasukan Kublai Khan. Jenderal Nasaruddin diperkirakan telah menyebarkan Islam ke Cochin China. Terdapat sejumlah pusat Tionghoa-Muslim di Champa, Palembang, dan Jawa Timur.

Pada tahun 1413 ketika Laksamana Cheng Ho (Zheng He) dan Laksamana Muhammad Ma Huan bersama armadanya tiba di Jawa, ia mencatat bahwa kebanyakan penduduk Tionghoa di sana beragama Islam seperti juga orang Dashi (Arab). Pada masa itu di sana belum ada orang Jawa yang memeluk agama Islam. Antara tahun 1513-1514, Tome Pires melukiskan Gresik di Jawa Timur sebagai sebuah kota makmur yang dikuasai oleh orang Tionghoa. Pada tahun 1451, Ngampel Denta didirikan oleh Rahmat Wang Suihe alias Sunan Ampel untuk menyebarkan Islam kepada para penduduk setempat. Sebelum itu, ia telah menyiapkan sebuah pusat Tionghoa-Muslim di Bangil, juga di Jawa Timur.

Sebutan kiai dan sunan
Sangat menarik untuk dicatat bahwa setidak-tidaknya sampai masa pendudukan Jepang (1942-1945), di kota Malang, Jawa Timur, penduduk setempat masih menyebut orang Tionghoa yang baru datang sebagai “kiai”. Kiai berarti pengajar agama Islam (Islamic religious teacher). Sementara kebanyakan orang Tionghoa yang kemudian datang ke Asia Tenggara sudah bukan merupakan muslim. Kebiasaan ini berasal dari masa lalu ketika kebanyakan para penduduk/pendatang Tionghoa di Jawa adalah muslim. Gelar sunan berasal dari dialek Hokkien (Fujian): “suhu”. Delapan (8) dari Wali Songo menggunakan gelar sunan, salah satunya menggunakan gelar syekh yang berasal dari bahasa Arab, ke-9 wali tersebut merupakan Tionghoa-Muslim dari Mazhab Hanafi.

Kesimpulan logis dari catatan ini adalah bahwa para penyebar Islam dari Mazhab Hanafi tersebut adalah orang Tionghoa. Hal ini kurang-lebih bisa dibandingkan dengan penyebaran kekristenan dari Eropa ke benua-benua lainnya. Sampai abad ke-19, pada dasarnya para misionari yang menyebarkan agama Kristen ke luar negeri adalah orang Eropa. Daratan Tiongkok lebih luas dari Eropa. Membandingkan Eropa dengan Tiongkok tidak bisa hanya menggunakan salah satu negara Eropa, namun harus menggunakan Eropa secara keseluruhan.

Seperti Eropa, Tiongkok merupakan negeri yang terdiri atas berbagai etnis dan perbedaan bahasa, namun dalam hal ini etnis Tionghoa memiliki kelebihan yang lebih besar karena tulisan kanji Tionghoa dapat dipahami oleh berbagai subkelompok etnis Tionghoa, walaupun mereka menggunakan bahasa/dialek lisan yang sangat berbeda.

Referensi:

  1. De Graaf dan Pigeaud, “De eerste Moslimse Vorstendommen op Java”, “Islam in Java 1500-1700”
  2. Amen Budiman, “Chinese Muslims in Indonesia”
  3. Slamet Mulyana, “A Story of Majapahit”
  4. Slamet Mulyana, “The Fall of the Javanese Hindu Kingdoms and the Rise of Islam in Nusantara”
  5. Jan Edel, “Biography of Hasanuddin”
  6. Majalah “HIDAYAH”, Jan 2003, “PITI: Tegakkan Syi’ar Islam Bagi Muslim Tionghoa”, pp. 62-67.

Sumber: Equator-news.com
Minggu, 12 Februari 2012
Diakses: 17 Februari 2012 | 21:10
Didokumentasikan: 17 Februari 2012 | 21:10