Kota Singkawang di Kalimantan Barat sering dijuluki Kota Seribu Kelenteng. Awalnya, Singkawang merupakan desa yang merupakan bagian wilayah Kesultanan Sambas.

Daerah ini dulu sering disinggahi para pedagang dan penambang emas dari Monterado. Para penambang dan pedagang ini kebanyakan berasal dari China. Sebelum menuju Monterado, mereka terlebih dahulu beristirahat di Singkawang.

Para pedagang China ini menyebut Singkawang dengan San Keuw Jong (Bahasa Hakka) yang maknanya adalah kota di antara gunung dan laut.Mereka berasumsi dari sisi geografis bahwa Singkawang yang berbatasan langsung dengan Laut Natuna yang terdapat pengunungan dan sungai, di mana airnya mengalir dari pegunungan melalui sungai sampai ke laut.

Mayoritas penduduk adalah orang Hakka/Khek sekitar 42 persen dan selebihnya orang Melayu dan Dayak. Singkawang, bagi Shinta Antonia, merupakan Nusantara kecil, di mana ketiga etnis ini hidup secara berdampingan dan rukun.

Hal ini pula yang menginspirasi perempuan kelahiran Singkawang, 20 Juni 1989 ini untuk mendesain busana dengan mengangkat unsur-unsur yang ada di kota kelahirannya itu. Dalam sebuah fashion show busana pengantin, ibu dari seorang putri ini menghadirkan model bersanggul dengan mahkota paruh burung rangkong dan bulu burung ruai.

Koleksinya ini dia beri judul “The Queen of Singkawang”. Busana pengantin yang satu ini dia buat dari kulit pohon yang dihaluskan dengan kombinasi kain tile dan satin. “Proses untuk kulit pohonnya sekitar dua minggu mulai direndam air, dibilas bersih, dijemur, divernis, hingga dicampur dengan bahan tile dan satin,” ujarnya.

Busana ini juga menerangkan tiga etnis yang ada di Singkawang. Unsur Tionghoa tampak pada warna merah, motif naga, hiasan logam atau bohgam yang sering dikenakan pada etnis Tionghoa. Bunga Meihoa (baca Mehwa) yang biasa tumbuh di musim semi yang tampak di bagian ekor gaun payet-payet bunga ini.

Unsur Dayak terlihat di riasan di ujung mata berbentuk sulur yang menyerupai akar-akar dan tanaman paku yang tersebar sebagai pohon kehidupan suku tersebut. Dia menyelipkan mahkota paruh pada burung rangkong dan bulu-bulu burung ruai. Burung rangkong dalam bahasa latin Buceros rhinoceros dijadikan mahkota untuk perlambangan kebesaran yang juga simbol binatang suku Dayak.

Aksesori gelang terbuat dari rotan dan jerami padi, sedangkan kembang goyang mencerminkan unsur Melayu. Gaun pengantin kedua berjudul “The Bridal Lampion”. Shinta mencoba mengangkat unsur lampion yang selalu menghiasi setiap sudut Kota Singkawang.

“Bagian atas dan bawah saya ciptakan tanpa menggunakan korset; sedangkan bagian yang melengkung, saya desain menyerupai lampion dengan menggunakan kawat khusus yang disusun menyerupai gradasi lampion,” paparnya.

Dia menambahkan, proses pembuatan busana pengantin yang satu ini cukup rumit, sehingga membutuhkan waktu dua bulan untuk menyelesaikannya.

Memanfaatkan Teknologi
Desainer membutuhkan bantuan teknologi internet. Dia memercayai kehadiran internet dengan jaringan media sosial yang dikelola secara pribadi menjadi daya tarik tersendiri. Melalui kehadiran website, dapat menembus dunia. Istri dari Nusantio Setiadi ini memang tidak bisa diam. Dia selalu berusaha melakukan berbagai kreasi.

Dia akhirnya membuat laman nesabridalbeauty.com untuk menyalurkan kemampuan yang dia miliki. “Saya dapat menghasilkan uang secara online dengan memanfaatkan teknologi internet di masa kini,” lanjutnya.

Shinta berharap, laman ini menjadi titik awal baginya memantapkan diri dan eksis menekuni bidang ini. Selain itu dapat memberikan informasi, sumbangsih dan manfaat positif lainnya untuk masyarakat dan perkembangan industri mode di Indonesia.

Shinta mengatakan, saat ini teknologi internet menjadi bagian yang penting dalam kehidupan manusia. Kata internet sudah tidak asing lagi bagi kita semua yang kini dapat mengakses aneka informasi apa pun, termasuk informasi di dunia fashion.

Merias Limbat
Jauh sebelum menerjunkan diri di dunia fashion, Shinta memiliki hobi di bidang kecantikan khususnya tata rias wajah. Keahliannya ini diperoleh dari ibunya yang dulunya bekerja sebagai penjahit dan make up artis. Sejak duduk di kelas IV SD, Shinta selalu ikut ibunya bila ada panggilan untuk merias pengantin. “Awalnya hanya melihat saja, tapi kemudian mulai mencoba-coba merias wajah orang,” ia melanjutkan.

Hingga akhirnya dia mahir merias wajah. Bahkan wajah orang yang bopeng akibat jerawat dapat dia tutupi dengan make up, sehingga terlihat cantik.

Saat mengadu nasib di Jakarta, Shinta mendalami keahliannya dalam rias wajah dengan mengikuti pendidikan di salah satu lembaga pendidikan kecantikan terkenal di Indonesia. Bahkan dia sempat dipercaya untuk merias wajah Limbat.

Limbat pun merasa cocok dengan riasan wajah kreasi Shinta. Bahkan ketika Shinta sedang kurang enak badan, Limbat tidak mau di make up dengan perias lain. “Dengan kondisi yang kurang enak badan, saya datang dan merias wajah Limbat,” ujarnya.

Sumber : Sinar Harapan, 07 September 2013, Stevani Elisabeth
Didokumentasikan: 22-03-2014 | 09:09 WIB