PONTIANAK – Pemerintah Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, mengakui, sejumlah oknum pelajar di Kota Sintang, Ibukota Kabupaten Sintang, mengidap Penyakit Menular Seksual (PMS) akibat dari pergaulan bebas dan minimnya pemahaman kesehatan reproduksi.

Hal itu dikemukakan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang, Marcus Gatot Budi, ketika dikonfirmasi dari Pontianak, Rabu (22/1).

“Ada laporan dari tim yang kami bentuk di Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang. Ini segera ditangani, agar tidak menimbulkan masalah sosial baru,” kata Marcus.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang, Y.A.T. Lukman Riberu di tempat terpisah, menegaskan, segera memberikan penyuluhan terpadu, agar penyakit PMS tidak meluas di kalangan siswa dan siswi di Kabupaten Sintang.

Menurut Marcus, instansi teknis di Kabupaten Sintang telah melakukan rapat koordinasi untuk menangani penyakit PMS di kalangan siswa dan siswi di Kota Sintang. Penyebab penularan penyakit PMS tidak menutup kemungkinan implikasi seks bebas, tapi jumlah penderita masih dirahasiakan.

Marcus menuturkan, PMS adalah infeksi yang sebagian besar menular lewat hubungan seksual dengan pasangan yang sudah tertular. Hubungan seks ini termasuk hubungan seks lewat liang senggama, lewat mulut (oral) atau lewat dubur (anal).

Sebutan lain PMS adalah penyakit kelamin atau penyakit kotor. Namun, itu hanya menunjuk pada penyakit yang ada di kelamin. Istilah Infeksi Menular Seksual lebih luas maknanya, karena menunjuk pada cara penularannya.

Tanda-tandanya tidak selalu ada di alat kelamin. Tanda-tandanya juga ada di alat penglihatan, mulut, saluran pencernaan, hati,otak dan bagian tubuh lainnya.

Contohnya, menurut Marcus, HIV/AIDS dan Hepatitis B yang menular lewat hubungan seks, tetapi penyakitnya tidak bisa dilihat dari alat kelaminnya. Artinya, alat kelaminnya masih tampak sehat, meskipun orangnya membawa bibit penyakit-penyakit ini.

Sumber: Sinar Harapan, 23 Januari 2014
Didokumentasikan: 22-03-2014 |08:46