Reputasi Rumah Sakit St Antonius Pontianak tercoreng. Ulah dokter tamu terbongkar. Pasien bertambah parah, uang habis terkuras. Keluarga pasien menuntut. Apa sanksi untuk Jhon?

PONTIANAK – Tety Yulianti, 43, pasien penderita tumor otak terbaring tak sadarkan diri di ruang Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit St Antonius (RSSA) Pontianak pascaoperasi oleh Dr Jhon Hards P SpBS. Kondisi pasien asal Wajok Hulu Kecamatan Siantan itu semakin parah. Penyakit baru menggerogoti paru-parunya.

Pihak keluarga kecewa dan khawatir, bukan malah membaik justru pascaoperasi semakin buruk. Pasien mengalami koma selama hampir sebulan. Pihak keluarga memutuskan melaporkan persoalan tersebut kepada anggota Komisi D Provinsi Kalbar, H Miftah.

Legislator yang dikenal merakyat itu pun langsung menghubungi Direktur RSSA dan dokter yang melakukan operasi untuk dimintai penjelasan. Bertempat di ruang pertemuan direktur rumah sakit swasta ternama di Pontianak itu, digelar pertemuan, Rabu (2/11).

Dalam pertemuan itu, turut hadir pihak keluarga. Sedangkan dari pihak rumah sakit langsung dihadiri direktur RSSA Pontianak, Willy Brodus Uwan dan Jhon Hards yang dokter spesial saraf dan bedah tulang itu. Penjelasan demi penjelasan disampaikan Jhon Hards. Begitu juga dari pihak keluarga mengenai kondisi pasien dan kuitansi senilai Rp 100 juta yang akhirnya diketahui dikeluarkan secara pribadi oleh si dokter.

“Kita sangat kecewa, kondisi adik saya semakin buruk. Apalagi dokter paru-paru bilang kondisi paru-paru adik saya itu memburuk. Bahkan, lidahnya saat itu sudah biru dan hampir putus,” ungkap H Mardjad, kakak kandung Tety dalam pertemuan tersebut.

Menurut Mardjad, tidak ada upaya dari dokter yang menangani untuk memberikan penjelasan kepada keluarga mengenai kondisi pasien. Bahkan ketika pihak keluarga berniat menanyakan kondisi pasien pascaoperasi itu, dokter yang bersangkutan susah ditemui.

“Tidak ada dokter (John, red) memberikan penjelasan kondisi pascaoperasi. Kami keluarga juga sulit menanyakannya. Ketika kami tanya kepada karyawan rumah sakit, ternyata dokter tersebut tidak memiliki ruang kerja (dokter tamu, red),” kata Mardjad yang kini sudah dipecat dari tempatnya bekerja dan pesangonnya diberikan untuk membiayai proses pengobatan adik kandungnya itu.

Dia juga memaparkan awal mula tindakan operasi yang dilakukan dokter. Pada 19 September 2011, Tety masuk Rumah Sakit Antonius dan dirawat di ruang kelas II. Kemudian, berkonsultasi dengan Dokter John, dua hari kemudian tindakan operasi langsung dilakukan.

Namun, sebelum melakukan operasi itu, satu-satunya dokter ahli saraf dan bedah tulang itu mengungkapkan biaya operasi yang dibutuhkan yakni sekitar Rp 120 juta. Selanjutnya, pihak keluarga berembuk dan pada akhirnya menyanggupinya hanya Rp 100 juta.

Kemudian, Mardjad sebagai penanggung jawab dari pihak keluarga menyerahkan uang Rp 100 juta kepada kasir sesuai arahan sang dokter. Namun, ketika tiba di kasir, sejumlah petugas merasa aneh dan kebingungan. Sesaat kemudian, datang Kepala Bagian Perbendaharaan, Frans. Akhirnya kasir tak lagi bingung dan uang itu pun diserahkan pihak keluarga.

Ketika uang itu diserahkan pihak keluarga, tidak langsung diberikan kuitansi atau tanda bukti terima. Kuitansi yang ditandatangani Dr Jhon Hards di atas meterai 6.000 tertanggal 23 September 2011 itu baru diterima keesokan harinya.

“Saat kita konsultasi, Dokter Jhon juga bilang dana yang dibutuhkan mulai dari operasi hingga kondisi pasien membaik sekitar Rp 200 juta. Tapi apa? Sampai saat ini sudah 39 hari di ruang ICU tak juga sadarkan diri, malah makin parah,” sesal Mardjad.

Bahkan, kata-kata yang tidak selayaknya diucapkan seorang dokter juga terlontar dari mulut Jhon sebelum melaksanakan operasi. “Dokter John juga bilang, mau nunggu apa lagi. Apa mau nunggu mati,” ungkap Mardjad menirukan ucapan Jhon yang tak beretika.

Namun, Jhon membantah hal tersebut. “Tidak ada saya ucapkan seperti itu. Mengenai kondisi pasien itu konsekuensi dari operasi yang dilakukan. Protein yang rendah dan lama berbaring mengakibatkan paru-paru pasien bermasalah, begitu juga dengan lubang di pinggul belakang tubuh pasien,” terang Jhon.

Mengenai kuitansi Rp 100 juta itu, Jhon menjelaskan, uang tersebut digunakan untuk pengadaan alat-alat operasi berupa bahan habis pakai (BHP). Dirinya juga mengaku siap merinci alat-alat yang sudah digunakan.

“Sebelumnya operasi, saya sudah jelaskan kepada pihak keluarga mengenai biaya itu. Pihak keluarga menyanggupinya. Memang saya yang buat kuitansi itu untuk membantu keluarga. Nanti jasa saya dihapus dan diberikan untuk membantu biaya pengobatan pasien,” ucap Jhon. (jul)

Sumber: Equator-news.com
Kamis, 3 November 2011
Didokumentasikan: 04 November 2011 | 15:42