Oleh: Mahmudi

Kalau tak ada aral melintang, Muktamar Nasional PITI akan direncanakan di Kota Pontianak pada awal Maret mendatang. Puluhan ustaz Tionghoa akan hadir.

Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI)–dahulu Pembina Iman Tauhid Islam–merupakan sebuah organisasi Islam di nusantara. Direncanakan akan menggelar pertemuan akbar di Pontianak pada 9-11 Maret.

Selama muktamar nasional, para ustaz Tionghoa muslim akan berdakwah secara serentak di 30 masjid di Kota Pontianak. Di Kalbar saat ini terdapat 40 ribu kepala keluarga (KK) Tionghoa muslim, komunitas terbesar di Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, dan Kabupaten Pontianak. Sedangkan di kawasan timur Kalbar, pusat komunitas warga muslim Tionghoa berada di Kabupaten Melawi.

Menjelang Muktamar Nasional PITI, ada baiknya mengenal komunitas muslim Tionghoa di nusantara serta suku-suku beragama Islam di Tiongkok, di mana dilindungi pemerintah Republik Rakyat Tiongkok, perwakilannya tiap tahun dengan diundang sidang nasional rakyat di Beijing.

PITI didirikan di Jakarta pada 14 April 1961. PITI tidak bertalian dengan organisasi sosial politik mana pun. Ketua PITI saat ini H Trisno Adi Tantiono yang terpilih pada tahun 2005.

Program PITI menyampaikan dakwah Islam khususnya kepada masyarakat keturunan Tionghoa. Pembinaan dalam bentuk bimbingan ke muslim Tionghoa, dalam menjalankan syariah Islam, baik di lingkungan keluarganya yang masih nonmuslim dan persiapan berbaur dengan umat Islam di lingkungan tempat tinggal dan pekerjaannya.

Kemudian mendukung terhadap pembelaan maupun perlindungan bagi warga Tionghoa masuk agama Islam. Apalagi pada masa itu, seorang Tionghoa yang beragama Islam ditentang di komunitas Tionghoa maupun warga Islam lokal. Lebih tepatnya, meminimalisasi masalah dengan keluarga dan lingkungannya.

PITI sebagai organisasi dakwah sosial keagamaan yang berskala nasional berfungsi sebagai tempat singgah, tempat silaturahmi untuk belajar ilmu agama dan cara beribadah bagi etnis Tionghoa yang tertarik dan ingin memeluk agama Islam serta tempat berbagi pengalaman bagi mereka yang baru masuk Islam.

PITI didirikan antara lain oleh Abdul Karim Oei Tjeng Hien, Abdusomad Yap A Siong, dan Kho Goan Tjin. PITI merupakan gabungan dari Persatuan Islam Tionghoa (PIT) dipimpin oleh Alm Abdusomad Yap A Siong dan Persatuan Muslim Tionghoa (PMT) dipimpin oleh Kho Goan Tjin.

PIT dan PTM yang sebelum kemerdekaan Indonesia mula-mula didirikan di Medan (Sumatera Utara) dan di Bengkulu, masing-masing masih bersifat lokal sehingga pada saat itu keberadaan PIT dan PTM belum begitu dirasakan oleh masyarakat, baik muslim Tionghoa dan muslim Indonesia.

Karena itulah, untuk merealisasikan perkembangan ukhuwah Islamiyah di kalangan muslim Tionghoa, maka PIT yang berkedudukan di Medan dan PTM yang berkedudukan di Medan merelakan diri pindah ke Jakarta dengan bergabung dalam satu wadah yakni PITI.

PITI didirikan pada waktu itu, sebagai tanggapan realistis atas saran KH Ibrahim kepada Abdul Karim Oei, untuk menyampaikan agama Islam kepada etnis Tionghoa harus dilakukan oleh etnis Tionghoa yang beragama Islam.

Dalam perjalanan sejarah keorganisasiannya, ketika di era tahun 1960-1970-an khususnya setelah meletusnya Gerakan 30 September (G-30-S) tahun 1965, di mana di saat itu Indonesia sedang menggalakkan gerakan pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa, simbol-simbol atau identitas yang bersifat disosiatif (menghambat pembauran) seperti istilah, bahasa dan budaya asing khususnya Tionghoa, dilarang atau dibatasi oleh pemerintah, PITI terkena dampaknya.

Dampak dari diskriminasi yang terima bagi Tionghoa muslim, nama Tionghoa pada kepanjangan PITI dilarang. Berdasarkan pertimbangan kebutuhan bahwa gerakan dakwah kepada masyarakat keturunan Tionghoa tidak boleh berhenti, maka pada 15 Desember 1972, pengurus PITI, mengubah kepanjangan PITI menjadi Pembina Iman Tauhid Islam.

Pada bulan Mei 2000, dalam rapat pimpinan organisasi menetapkan kepanjangan PITI dikembalikan menjadi Persatuan Islam Tionghoa Indonesia.

Saat ini, mulai banyaknya pembangunan masjid-masjid berarsitektur Tiongkok mengikuti jejak pendirian Masjid Cheng Ho di Surabaya, seperti di Purbalingga, Masjid Ja’mi An Naba KH Tan Shin Bie di Purwokerto, di Kota Palembang Masjid Cheng Ho Sriwijaya, dan Kota Semarang ada Masjid Cheng Ho Jawa Tengah, dan Islamic Center di Kota Kudus. (mah/bersambung)

Sumber: Equator-news.com
Senin, 13 Februari 2012
Diakses: 16 Februari 2012 | 21:59
Didokumentasikan: 16 Februari 2012 | 21:59