PONTIANAK, KOMPAS.com – Praktik pembangunan tidak berkelanjutan yang selama ini banyak diterapkan, menjadi ancaman serius bagi kelangsungan sastra lisan dan kearifan lokal di sejumlah wilayah di Indonesia. Akibat paling parah yang bisa terjadi, bangsa Indonesia bisa kehilangan identitas budayanya.

Demikian disampaikan Rektor Universitas Tanjungpura Pontianak Prof Dr Chairil Effendy MS dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Sastra pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untan, Senin (11/5). Dalam orasi ilmiahnya, guru besar ke-24 di Untan itu mengusung tema Sastra Lisan, Kearifan Lokal, dan Pembangunan Berkelanjutan.

Sastra lisan, menurut Chairil merupakan fakta mental yang menggambarkan mimpi-mimpi, cita-cita, aspirasi, keinginan, harapan, keluh-kesah, dan sebagainya yang kesemuanya merupakan sistem pengetahuan masyarakat. Masyarakat pemiliknya mentransmisikan sastra lis an dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, agar kandungan sastra lisan itu terinternalisasikan sebagai pedoman bagi hidup mereka dalam menyikapi tantangan kehidupan. Sayangnya, pembangunan yang tidak berkelanjutan justru menggerus keberadaan sastra lisan dan kearifan lokal di dalamnya.

“Sastra lisan semakin tergerus karena habitat kebudayaannya banyak yang rusak. Cerita-cerita tentang binatang atau kearifan di hutan misalnya, menjadi tidak relevan bagi anak cucu dan sulit dipahami mereka karena hutan banyak yang rusak ditebangi,” kata Chairil. Ia menambahkan, di saat habitat kebudayaan itu rusak maka akibat yang paling serius adalah hilangnya identitas budaya

Bukti dari semakin tergerus sastra lisan, salah satunya adalah semakin sedikitnya penutur sastra lisan atau pedande di Sambas. Hal yang sama juga terjadi pada penutur sastra lisan atau tukang sijobang di Padang dan tukang tanggomo di Gorontalo.

Untuk melestarikan keberadaan sastra lisan, menurut Chairil perlu didorong adanya pelatihan-pelatihan mendongen bagi orang tua, seperti yang sudah dilakukan di Jerman. Upaya lainnya adalah menyelenggarakan sesering mungkin pertunjukan dan perlombaan mendongeng.

Charil yang lahir di Singkawang 57 tahun yang lalu itu dalam beberapa tahun terakhir telah menelusuri sekitar 300 sastra lisan di Kalbar. Sebagian dari hasil penelusurannya itu bahkan sudah dibukukan. Ia juga aktif mendorong mahasiswanya untuk meneliti sastra lisan yang ada di Kalbar.

Penulis: Christoporus Wahyu Haryo P.
Sumber: Kompas.com
Selasa, 12 Mei 2009 | 01:03 WIB