Pengarang

 Zulkifli, dkk

Judul

Pekong Kaki : Antologi Cerita Rakyat Sui. Raya Kepulauan

Edisi/Cet.

Cet. 1, Oktober 2016

Impresum

Pontianak : Balai Bahasa Kalimantan Barat, 2016

Kolasi

x, 140 hlm.; 21 cm

ISBN

978-602-60408-1-7

Dari kejauhan terlihat sebuah bangunan tepat di kaki gunung di pinggir jalan raya yang tampak megah disinari mentari pagi. Walaupun warnanya sudah agak kusam, tetapi bangunan tersebut masih menjadi sebuah tempat beribadah yang layak bagi agama penganutnya. Bangunan tersebut terletak di Desa Sungai Raya, tepatnya di Dusun Pembangunan. Bangunan itu terkenal dengan sebutan “Pekong Kaki”. Sejarah bangunan Pekong Kaki sudah berusia ratusan tahun. Berawal dari seorang tokoh bernama Sam Po Kong. Konon, orang tersebut mempunyai kesaktian yang sangat luar biasa.

Menurut legenda, sewaktu beliau berangkat dari negeri Tiongkok, Sam Po Kong berlayar bersama cucunya menuju bumi nusantara. Dalam pelayaran, Sam Po Kong bersama cucunya berlayar bukan menggunakan sebuah kapal ataupun perahu layar tetapi mereka menaiki sebuah lesung yang amat besar. Lesung tersebut dijadikan seperti perahu layar umumnya. Mereka pun mulai berlayar dan mengarungi samudera menggunakan lesung tersebut.

Selang beberapa waktu pelayaran, tibalah mereka di pulau Kalimantan.

“Bagaimana kita akan melewati dataran tersebut sedangkan kita jauh dari laut dan tidak melewati sungai?” tanya sang cucu.

“Cucuku kamu tenang dan jangan khawatir. Kamu turuti saja perintah kakek dan jangan sekali-kali kamu melanggarnya.” Jawab sang kakek.

Lalu cucunya kembali bertanya, “Apakah gerangan yang harus saya lakukan kek?”

“Kamu pejamkan saja matamu dan jangan buka sampai kakek memerintahkan untuk membukanya!” perintah sang kakek.

Lalu si cucu pun memejamkan matanya sehingga ia tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Setelah itu, sang kakek langsung menerbangkan lesung yang mereka kendarai menggunakan kesaktian yang ia miliki.

Selang beberapa waktu, timbul rasa penasaran di dalam benak sang cucu untuk mengetahui apa gerangan yang sedang terjadi. Tanpa sepengetahuan sang kakek si cucupun membuka matanya. Alangkah terkejutnya ia setelah mengetahui sebuah peristiwa yang aneh sedang berlangsung di dalam perjalanannya dengan sang kakek. Sang cucu merasa sangat terkejut karena perahu yang mereka gunakan untuk berlayar tadi kini sedang terbang di udara.

Karena cucu Sam Po Kong telah melanggar perintah sang kakek, maka apa yang ditakutkan Sam Po Kong pun terjadi. Lesung yang mereka tumpangi tiba-tiba saja jatuh sehingga sang kakek secara spontan melompat dari lesung dan jatuh tepat di atas bongkahan batu besar (Gunung Bunga/Gunung Gosong). Teringat akan cucunya yang masih ada di dalam lesung, Sam Po Kong pun berusaha untuk menahan lesung agar tidak hancur karena terhempas ke tanah.

Sam Po Kong berpijak sangat kuat disebuah batu. Saking kuatnya menahan lesung. Kini batu bekas pijakan meninggalkan bekas berbentuk telapak kaki Sam Po Kong. Setelah berhasil menyelamatkan cucunya, Sam Po Kong dan cucunya kembali melanjutkan perjalanan melalui sungai (Sungai Raya) melewati Selat Karimata dan menuju ke Pulau Jawa.

Untuk mengenang peristiwa tersebut maka didirikanlah sebuah vihara kecil atau yang kita kenal dengan nama pekong. Nama Pekong Kaki digunakan karena di tempat tersebut terdapat sebuah batu besar yang berbekas telapak kaki Sam Po Kong. Menurut kepercayaan orang-orang Tionghoa, kejadian luar biasa itu dianggap sebuah keramat. Oleh sebab itu, sampai saat ini di Desa Sungai Raya setiap tanggal 10 bulan 10 kalender Imlek selalu mengadakan sebuah upacara atau peringatan hari besar yang diberi nama Hari Sam Po Kong.

Catatan:
Judul cerita rakyat di atas, merupakan salah satu dari 33 cerita rakyat yang berasal dari daerah Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, yang dikemas dalam sebuah buku dengan judul yang sama. Selengkapnya, cerita rakyat tersebut dapat dibaca di Ruang Deposit, Perpustakaan Provinsi Kalimantan Barat.