Pernahkah kalian terfikir, apa sebenarnya pusaran air itu?

Pernahkah kalian menyaksikan nya?

Tentunya hampir semua orang pernah menyaksikan fenomena alam ini. Kecil maupun besar, berbahaya ataupun tidak, setidaknya kita pernah melihat gulungan air yang berputar tersebut. Ia adalah sebuah misteri keindahan yang terkadang disangkut-pautkan dengan filsafat metafisika, dan terkadang teka-teki mengagumkan ini menyimpan seribu pertanyaan yang tidak terjawab.

Lalu mengapa manusia sering menghubung-hubungkan hal ini dengan kekuatan supranatural?

Percaya atau tidak, banyak terjadi kasus orang hilang yang disebabkan tertelan oleh fenomena misterius ini. Di Kalimantan sendiri, ia sering menampakkan dirinya pada permukaan Sungai Kapuas, bahkan ada sebuah desa yang memiliki legenda tersendiri tentang pusaran air ini.

Desa ini bernama Nanga Bunut, sebuah desa pedalaman Sungai Kapuas yang dulu terisolasi dari jalur infrastruktur. Sungai adalah jalur utama menuju desa ini, desa itu dibelah oleh pertemuan dua arus sungai. Dahulu terdapat sebuah kerajaan tua di daerah ini, bekas peninggalan sejarah masih tersisa berupa makam para penguasa jaman dahulu beserta rumah tuanya.

Rumah itu masih cukup terawat walaupun sangat jarang ditempati, konon kabarnya rumah tersebut sangatlah angker dan memiliki aura ghaib yang luar biasa. Banyak pelancong berziarah untuk bermalam di rumah tua itu, mencoba menguak tabir supranatural yang tersembunyi.

Halaman belakang rumah itu, terdapat sebuah sumur tua yang sudah tidak terpakai. Mulut sumur kini ditutupi oleh semak rerumputan dan ia bernaung dibawah sebuah pohon Sukun yang rindang. Menurut juru kunci rumah, ia sering meihat sesuatu seperti seekor ular besar dengan kepala berkilau mirip seperti sebuah mahkota, keluar dari sumur tua itu. Namun ular tersebut tidak pernah mengganggu, dan hanya muncul saat malam-malam tertentu saja. Dari pengalaman para pelancong yang berziarah, mereka sering mengaku melihat sebuah kaki yang menjuntai dari atas anak tangga. Sosok hitam berbulu serba lebat itu terkadang menyeringai dari sebuah lubang atas loteng yang gelap.

Ada juga sebuah kisah tentang menghilangnya seorang anak kecil yang sedang bermain di tepian sungai waktu itu juga sempat menghebohkan warga. Awalnya saya tidak percaya akan cerita berbau tahayul ini, namun ternyata semua itu saya dengar langsung dari bibir seorang nenek yang bisa dipercaya kebenaran kisahnya. Maklum saja, beliau adalah nenek saya sendiri, dan beliaulah yang mengalami kejadian aneh ini. Kami para cucu memanggil almarhumah dengan sebutan Nek Umay.

Sore itu Umay dan teman-temannya sedang asik bermain dengan sebuah sampan (perahu kecil/kano). Berhubung rata-rata keluarga di desa ini bermata pencaharian sebagai nelayan, sudah menjadi keharusan bagi mereka untuk bisa mengarungi arus dengan mengayuh sampan. Bahkan di usia dini, anak-anak kecil di desa ini pun memiliki kemampuan berenang yang luar biasa jika dibandingkan dengan anak-anak di kota jaman sekarang pada umumnya. Jangankan menyelam dalam waktu yang lama, berenang menyeberangi sungai yang lebarnya sekitar lebih dari 50 meter itu pun mereka sanggup melakukannya, walaupun hal itu sempat dilarang oleh orang tuanya.

Tapi anak-anak tetaplah anak-anak, mereka belum mengerti akan bahayanya berenang menyebrangi sungai. Tanpa tersadar Umay dan teman-temannya sudah mulai menjauhi desa, dengan sampan dan dayung yang dimilikinya ia mengayuhkan tongkat kayu itu meluncur ke sebuah lokasi terpencil. Orang-orang kampung menamai lokasi itu Uluk Lesung atau daerah lubuk buaya, yaitu sebuah kawasan rawa yang dangkal dan ditumbuhi tanaman air yang rindang dan sunyi di sekelilingnya.

Tempat itu bukan saja sepi dan menyeramkan, konon disana bersemayam para makhluk siluman menyerupai buaya. Keangkeran tempat itu sudah menjadi rahasia umum penduduk lokal , tidak ada satupun yang berani memancing ikan di sana apalagi mendatanginya pada saat musim kemarau. Menurut cerita, mereka sering menampakkan diri dan berinteraksi dengan manusia yang datang kesana. Kehadiran mereka sering ditandai dengan bau udang segar yang menyengat lalu dibarengi munculnya pusaran air misterius saat gerimis hujan panas.

“May.. sepertinya kita sudah terlalu jauh dari kampung.” Tutur seorang temannya kepada Umay.

“Ya.. sepertinya kita harus segera pulang, bisa-bisa kita semua akan dimarahi berhubung sore mulai gelap.” Sahut Umay dengan nada khawatir.

“Perasaanku mulai tidak enak, apa kalian semua mencium aroma ini?” sahut salah satu teman Umay yang lainnya.

“Iya, ini seperti bau amis dan sepertinya berasal dari situ.” Umay menunjuk kearah sebuah alur anak sungai kecil yang dikelilingi ilalang tinggi.

Ia pun mengayuhkan dayungnya, Umay mencoba menyusuri anak sungai berwarna gelap itu dengan rasa penasaran. Bau amis itu semakin tajam tercium, tiba-tiba.. ia dikagetkan oleh pusaran air yang muncul beberapa jengkal dari sampannya. Panik dan terseret.. ia berusaha mengendalikan sampan kecilnya itu menjauhi pusaran air yang bergejolak. Namun pusaran itu terlalu kuat untuk anak seusianya, ia terseret masuk kedalam air dan tenggelam.

Some Rights Reserved©Reunion 2013
Nanga Bunut: “Pusaran Air, Pintu Alam Ghaib” oleh RamsXes disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi.
Berdasarkan ciptaan pada http://mistik.reunion.web.id