Oleh: Hamka Saptono

H Ismail Mundu wafat pada Kamis, 15 Jumadilakhir 1376 H atau 16 Januari 1957 M. Beliau dimakamkan di Desa Selat Remis, Teluk Pakedai, sekitar 1 kilometer dari Masjid Nashrullah. Masjid bersejarah itu dikenal dengan sebutan Masjid Batu.

Tidak seperti makam ulama-ulama besar pada umumnya. Sang Mufti Kubu H Ismail Mundu dimakamkan di areal perkebunan kelapa. Beliau dimakamkan berdampingan dengan makam Hj Asma binti Abdul Kadir Natto.

Jalan menuju ke makam Ismail Mundu melewati jalan semen di pinggiran sungai Selat Remis. Ketika air pasang, jalan tersebut tidak bisa dilalui kendaraan roda dua. Warga yang berziarah menggunakan sampan hingga di areal pemakaman Sang Mufti Kubu.

“Hampir setiap hari, pasti ada yang berziarah. Kebanyakan mereka yang melakukan ziarah datang dari daerah lain, terutama dari Kota Pontianak,” ungkap Ude Delal, warga ibu kota Kecamatan Teluk Pakedai.

Saya, Jailani Kasno, Dennis Marlone, Mustaan dari kru Harian Equator dan seorang teman saya Deni Iriawan mendatangi makam H Ismail Mundu, bersamaan dengan rombongan yang diantar Ude Delal. Karena air pasang, kami berziarah ke makam beliau menggunakan sampan. Termasuk rombongan yang diantar Ude Delal.

“Meskipun air pasang seperti saat ini, warga tetap melakukan ziarah. Kalau tidak bisa melewati jalan darat, pergi ke makam beliau melalui jalan air menggunakan sampan,” jelas Ude Delal.

Puncak ziarah ke makam Ismail Mundu pada Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiulawal. Warga yang ziarah ke makan Sang Mufti Kubu bukan hanya dari kalangan muslim, tetapi juga nonmuslim. “Kalau peringatan Maulid Nabi Muhammad, makam beliau pasti dipadati pengunjung dari berbagai daerah,” jelas Ude Delal.

Kami mendatangi makam Ismail Mundu ketika air pasang. Bahkan sampan yang kami gunakan bisa dikayuh hingga ke komplek pemakaman. Di depan makam Ismail Mundu dibangun pendopo, tempat para penziarah melalukan tahlil atau memanjatkan doa untuk ulama besar tersebut. “Pendopo tersebut dibangun warga, agar memudahkan para peziarah untuk melakukan tahlil,” ungkap Ude Delal.

Begitu sampai ke komplek makam, kami duduk bersila mendoakan Ismail Mundu di pendopo yang dikelilingi air. Sebagian lantai papan pendopo basah tergenang air. Kami harus mencari tempat yang kering agar bisa duduk di pendopo tersebut.

“Kami mengharapkan ada perhatian dari pemerintah untuk memperindah makam guru besar Ismail Mundu dan pendopo di depan makamnya. Apalagi makam beliau sering dikunjungi warga dari berbagai daerah. Setidaknya warga yang mendatangi makam beliau bisa melakukan ziarah dengan tenang,” harap Ude Delal. (selesai)

Sumber: Equator-news.com
Sabtu, 31 Desember 2011
Diakses: 09 Januari 2012 | 11:32
Didokumentasikan: 09 Januari 2012 | 11:32