Dunia kesastraan Kalimantan Barat tengah menunggu perkembangan yang berasal dari Samarinda, Kalimantan Timur. Perkembangan tersebut akan dibawa oleh para punggawa budaya Kalimanatan Barat, termasuk punggawa sastranya. Seperti telah dirilis oleh Borneo Tribune Selasa(12/7/11), para punggawa tersebut akan menghadiri Dialog Borneo Kalimantan (DBK) XI pada 13-15 Juli 2011 di Samarinda, Kalimantan Timur.

Para punggawa tersebut sangat akrab dan sudah malang-melintang di dunia budaya, termasuk sastra Kalimantan Barat, di antaranya, Prof. Chairil Effendy, Sataruddin Ramli, Pietra SAR, Mizar Bazarvio, Pradono, Yosi Pontian, dan Holil Azmi.

Geliat sastra Kalimantan Barat membutuhkan sentuhan-sentuhan kreatif guna merangsangnya sehingga tidak mengalami masa fatroh (kekosongan, vacuum) meskipun hampir tiap minggu muncul karya-karya sastra di beberapa media cetak Kalbar. Memang informasi mutakhir telah muncul antologi puisi bersama Republik Warung Kopi karya delapan penyair Kalbar yang diterbitkan oleh Pijar Publishing. Akan tetapi, dukungan geliat sastra Kalbar harus tetap diperhatikan, tidak hanya melaui individu semata, tetapi juga melalui komunitas sastra, bahkan dimungkinkan melalui pemerintah.

Tidak menutup kemungkinan pengaruh di luar Kalbar juga berpeluang memberikan kontribusinya terhadap perkembangan sastra Kalbar. Oleh-oleh dari Samarinda dapat dimanfaatkan untuk memacu nantinya terhadap geliat sastra Kalbar. Pada gilirannya, oleh-oleh tersebut seyogianya disosialisasikan dan dipublikasikan lewat media-media yang terdapat di Kalbar.

Dialog Borneo Kalimantan XI kemungkinan mencari persamaan visi dalam membangun dunia kesastraan Kalimantan. Hal ini dapat dipahami melalui peluncuran karya sastra, Kalimantan dalam Prosa Indonesia, Kalimantan dalam Puisi Indonesia, dan Kalimantan Timur dalam Sastra Indonesia. Apalagi, karya-karya tersebut dieditori oleh sastrawan Kaltim, Korrie Layun Rampan yang memiliki komitmen besar terhadap perkembangan sastra regional Kalimantan. Komitmennya sudah terbukti sejak lama, misalnya pernah meminta profil-profil sastrawan Kalbar ke Balai Bahasa Kalbar, termasuk apresiasinya terhadap karya Odhy’s yang menurutnya pernah bermetamorfosa dari sastra populer ke sastra serius. Bahkan, kegiatan tersebut melintas batas Negara dengan menggandeng Malaysia Timur dan Brunei Darussalam. Dengan demikian, semakin menambah jumawa kegiatan tersebut.

Menurut Sapardi Djoko Damono, sastra tumbuh pada tempat, zaman, dan tradisi pemikiran tertentu. Dialog Borneo Kalimantan XI sepertinya bertujuan memperkukuh kekhasan sastra Kalimantan yang memilki tradisi-tradisi unik yang tidak dimiliki oleh wilayah lain di Indonesia. Sebagaimana Kalimantan Barat yang memiliki kekhasan tradisi-tradisinya telah menjadi latar belakang karya para sastrawan Kalbar. Long Pirak misalnya cerpen yang ditulis oleh Mizar Bazarvio dipenuhi oleh tradisi-tradisi Sambas. Sastra regional sepertinya menjadi pembicaraan penting Dialog Borneo Kalimantan XI.

Indikasi-indikasi di atas bisa jadi oleh-oleh yang dibawa oleh khususnya para punggawa sastra Kalbar. Namun demikian, hal itu tidak dapat dipastikan karena oleh-oleh itu belum jelas diketahui. Yang jelas dapat dipastikan oleh-oleh tersebut bermanfaat dan merupakan informasi yang bakal menggembirakan bagi perkembangan sastra lokalitas Kalimantan Barat. Apalagi, Dewan Kesenian Kalimantan Barat (DKKB) akan mengawal oleh-oleh tersebut,

Oleh-oleh itu tidak berlebihan nantinya sangat berarti bagi perkembangan sastra Kalimantan Barat karena DBK XII 2013 direncanakan berlangsung di Pontianak Kalimantan Barat. Bagi perkembangan sastra Kalbar terhadap rencana tersebut harus dijadikan pemicu bagi sastrawan-satrawan muda Kalbar untuk menelurkan karya sastra yang terbarukan berlatar Kalimantan Barat. Oleh karena itu, oleh-oleh nantinya sedapat mungkin menyentuh kepentingan para sastrawan muda Kalbar, ibarat amunisi bagi Wisnu Pamungkas yang tengah menyelesaikan trilogi novelnya, Amrin Zuraidi Rawansyah yang masih berkutat dengan novelnya, dan Saifun Salakim yang mempunyai karya sastra baru. Orang-orang seperti mereka seyogianya diberi peluang untuk mencicipi oleh-oleh tersebut karena di tangan mereka diteruskan tongkat estafet sastra Kalimantan Barat.

Penulis: Khairul Fuad
Sumber: Borneotribune
Jumat, 15 Juli 2011 10:35