Kewaspadaan diperlukan untuk menangkal Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyebaran penyakit yang terkadang membawa maut ini terjadi peningkatan di Kabupaten Melawi.

Tercatat 16 kasus DBD mulai akhir Desember 2011 hingga akhir Januari 2012 atau selama sebulan. Sebanyak 16 penderita tersebut sebagian besar ditemukan di Nanga Pinoh. Hanya satu kasus yang ditemukan di Ella Hilir. Rata-rata penderita yang terkena penyakit ini adalah anak-anak yang berumur di bawah 10 tahun.

Warga diimbau menjalankan program 3M: menguras, menutup, dan menimbun. “Telah kita temukan 16 penderita DBD. Semuanya positif. Jumlah penderita itu ditemukan mulai akhir Desember hingga hari ini,” kata Kepala Dinas Kesehatan Simson SKM MKes ditemui Kamis (26/1).

Hingga kini, kata Simson, hanya dua tempat yang ditemukan DBD. Yakni di Nanga Pinoh dan Ella Hilir. Sementara kecamatan lain masih belum ada. “Mudah-mudahan tidak ada. Kita dapat info tadi di Kecamatan Tanah Pinoh tidak ada ditemukan DBD,” paparnya.

Simson memprediksi tahun ini merupakan siklus lima tahunan penyebaran DBD. Artinya, di tahun ini akan ditemukan DBD lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya rentang 5 tahun. Ditemukannya 16 kasus DBD dianggap sebagai kejadian luar biasa. Makanya, dinas kesehatan telah melakukan berbagai upaya antisipasi.

“Jangankan 16 kasus, satu kasus saja sudah kita anggap kejadian luar biasa. Pasalnya, DBD ini menyebar sangat cepat. Lantaran disebarkan oleh nyamuk yang memiliki jangkau yang cukup luas dan siklus perkembangbiakan yang cukup cepat,” paprnya.

Penyakit demam berdarah yang bahasa medisnya disebut Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan.

Agar penyakit DBD ini tidak terus menyebar, maka yang mesti dimusnahkan adalah penyebarnya. Yakni nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Hingga itu, Dinas Kesehatan Melawi telah melakukan fogging (pengasapan).

Fogging ini telah dilakukan pada lokasi tempat tinggal penderita DBD sendiri. Kata Simson, radius dari rumah penderita sekitar 200 meter sesuai dengan arah mata angin. Yakni barat, timur, utara, dan selatan rumah penderita DBD.

“Bahkan kita telah melakukan fogging pada pemukiman suspect atau yang diduga penderita DBD. Sekolah-sekolah, pemukiman padat penduduk. Kita juga membagikan ABT, mensosialisasikan tindakan penyegahan, yakni meminta agar warga melakukan 3M,” paparnya.

Terpisah, warga Nanga Pinoh, Wahyudi mengaku ada keponakannya yang meninggal akibat DBD. Dirinya mengharapkan agar pemerintah segera melakukan tindakan nyata dan cepat agar penyakit ini jangan sampai terlalu merebah.

“Kita mengharapkan instansi terkait segera melakukan tindakan nyata atas kasus yang belakangan terjadi. Tindakan tersebut mesti nyata dan cepat. Agar jangan sampai anak-anak kita menjadi korban,” pintanya. (sukartaji)

Sumber: Equator-news.com
Jumat, 27 Januari 2012
Diakses: 3 Januari 2012 | 8:42
Didokumentasikan: 3 Januari 2012 | 8:42