Budaya kekeluargaan dan kebersamaan merupakan salah satu ciri khas dari masyarakat adat Ketemenggungan Belaban Ella, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Penduduk Ketemenggungan Belaban Ella merupakan suku Dayak Limbai dan Dayak Ransa—dari rumpun Dayak Ot Danum—yang hidup di Kampung Sungkup dan Kampung Belaban Ella.

Salah satu bentuk kekeluargaan dan kebersamaan yang tecermin dari tradisi masyarakat adat Ketemenggungan Belaban Ella, khususnya di Kampung Sungkup, yaitu keberadaan rumah betang—yang berarti rumah panjang.

Menurut Bahen, tokoh adat yang juga menjabat sebagai wakil ketua Badan Permusyawaratan Desa Belaban Ella, rumah betang adalah simbol persatuan dari masyarakat adat Kampung Sungkup. Rumah betang merupakan rumah panggung yang terbuat dari kayu dan dibangun memanjang dengan banyak pintu. Di rumah panjang ini, masyarakat adat Kampung Sungkup melaksanakan berbagai macam aktivitas bersama, seperti rapat-rapat kampung, pertemuan dengan pihak luar, serta ritual-ritual adat, seperti perkawinan dan gawai syukuran panen padi.

Rumah betang di Kampung Sungkup ini memiliki lima pintu. Masing-masing pintu ditempati oleh satu sampai dua keluarga. Rumah betang dibuat agar sikap saling menolong dan komunikasi antarwarga kampung bisa tetap terjalin. “Misalnya, kalau ada yang sakit masyarakat yang lain langsung tahu dan orang yang sakit juga tidak perlu keluar rumah,” kata Bahen kepada Republika, Kamis (26/11).

Rumah lima pintu ini kini menjadi satu-satunya rumah betang milik Kampung Sungkup. Menurut Bahen, masyarakat adat Kampung Sungkup pernah memiliki rumah betang yang lebih panjang dengan pintu mencapai belasan dan dihuni oleh banyak keluarga.

Namun, identitas masyarakat adat Kampung Sungkup itu dihilangkan pada pertengahan 1970-an. Perusahaan pengelola hutan yang hadir di Melawi menyarankan masyarakat agar tidak tinggal dan tidak membangun rumah betang karena tingginya risiko apabila terjadi kebakaran.

“Kata mereka (pihak perusahaan), kalau ada kebakaran akan meluas dengan cepat. Temenggung dan masyarakat kampung percaya, lalu mulai membangun rumah terpisah,” kata Bahen.

Setelah rumah betang dihilangkan, masyarakat pun merasa dirugikan karena berakibat pada lunturnya nilai-nilai kebersamaan mereka. Kebiasan berkumpul pun drastis berkurang. Maka, rumah betang pun dibangun kembali pada 1980-an untuk mengembalikan tradisi dan nilai-nilai kebersamaan masyarakat adat Sungkup.

Masyarakat adat Kampung Sungkup pun rutin mengadakan pertemuan di rumah betang yang sudah selesai dibangun, setiap malam pergantian bulan. Pertemuan rutin itu biasanya membicarakan persoalan-persoalan adat dan lingkungan kampung.

Pertemuan rutin di rumah betang juga dimanfaatkan untuk membicarakan agenda kerja bakti membersihkan lingkungan kampung. Menjaga lingkungan kampung agar tetap bersih dan rapi pun menjadi suatu keharusan bagi masyarakat adat. Masyarakat adat Kampung Sungkup biasanya bergotong-royong membersihkan tempat-tempat umum di kampung, seperti aliran sungai, jalan kampung, jalan ke sumber air bersih, dan tempat kuburan atau posar.

Setiap keluarga wajib mengirimkan utusannya untuk melakukan kerja bakti. Keluarga yang berhalangan mengirimkan utusan akan dikenakan denda pengganti. “Biasanya uang denda digunakan buat beli kopi, gula, teh, untuk kebutuhan kerja bakti,” ujar Bahen.

Sikap kebersamaan masyarakat adat juga terlihat dari aktivitas berari atau gotong-royong. Berari dimaksudkan untuk memperingan pekerjaan seperti contohnya dalam hal beumo (berladang).

Mayoritas masyarakat di Kampung Sungkup sangat bergantung pada wilayah adatnya dalam memenuhi kebutuhan pokok termasuk dengan berladang sebagai mata pencaharian utama. Maka, setiap orang yang ingin memanfaatkan wilayah adatnya harus memperhatikan perihal ketertiban, keteraturan, keserasian, dan keseimbangan. Baik dengan sesama warga maupun dengan alam.

Misalnya, bila hendak membakar lahan untuk membuka ladang, masyarakat tidak boleh bertindak sesuka hati secara sepihak. Semua warga dan pemuka adat harus mengetahui agar tidak terjadi kesalahpahaman tentang pemanfaatan wilayah adat. Mereka sebelumnya harus meminta persetujuan adat agar tidak melanggar pantangan-pantangan dan hukum adat.

Jika sudah mendapatkan persetujuan dari para pemuka-pemuka adat, warga yang ingin memulai berladang membuka lahan dibantu oleh warga kampung. “Semuanya dilakukan sesuai aturan turun-temurun dan bersama-bersama saling membantu,” kata Bahen.

Demi kemaslahatan bersama, masyarakat berupaya menjaga wilayah adat terutama hutan adatnya dari segala bentuk kerusakan. Adat-istiadat yang sudah diwariskan turun-temurun mereka jalankan bersama secara sadar. Di dalam adat-istiadat itu terdapat aturan-aturan yang mengatur –baik hubungan antarsesama manusia maupun manusia dengan makhluk lainnya dan hubungannya dengan alam semesta.

Tidak sebatas pada aktivitas pemenuhan kebutuhan hidup semata, kerja sama dan solidaritas mereka yang tinggi juga diwujudkan dalam berbagai aktivitas adat lainnya. Mereka saling membantu dalam acara perkawinan, acara kematian, hingga dalam acara membangun rumah.

Editor: Priyantono Oemar
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/koran/teraju/15/12/18/nzjqpj1-membangun-kembali-kebersamaan
Jumat, 18 Desember 2015, 13:00 WIB