Selama berabad-abad manusia Dayak (terutama di 4 provinsi di Indonesia), kebudayaan Dayak menjadi obyek orang luar (non Dayak, dalam dan luar negeri); obyek penelitian, obyek pembangunan, dll; tanpa sedikit pun mereka sadar akan eksploitasi orang luar tersebut. Ketidaktahuan orang Dayak atas perlakuan orang luar terhadap mereka salah satunya disebabkan sangat terbatasnya (ketika itu) informasi tertulis yang obyektif tentang mereka. Sangat langka informasi, pengetahuan tentang manusia dan kebudayaan Dayak yang ditulis/dibuat orang Dayak sendiri.

Orang Dayak menjadi objek eksploitasi orang maupun paham luar. Ideologi “pembangunan” yang hanya mengutamakan perhitungan ekonomi telah menyebabkan kekayaan alam habis dan kebudayaan Dayak pelan tapi pasti terkikis. Demi, untuk dan atas nama pembangunan dan negara, rumah panjang, kuburan, benda keramat dihancurkan, kebun, ladang orang Dayak digilas.

Mata orang Dayak (di Kalbar khususnya) pertama kali terbuka ketika reportase mendalam David Jenkins pada masyarakat Dayak Dakan dan Gandis di Kab. Sintang-Kalbar dibaca dan menggugah hati banyak orang akan nasib masyarakat Dayak yang selama ini tidak terungkap ke permukaan. Artikel berjudul “The Dajaks: Good by All That” yang dimuat Majalah Far Eastern Economic Review Edisi 30 Juni 1978) tersebut mengungkapkan bahwa kehadiran perkebunan karet unggul dari Pemerintah pada masyarakat Dayak Dakan dan Gandis, ternyata malah meminggirkan, membuat masyarakat setempat tidak berdaya dan miskin.

Setelah itu muncul banyak tulisan, baik dari dalam maupun luar negeri, yang mengungkapkan nasib suku bangsa Dayak sebagai penduduk asli Kalimantan yang justru dipinggirkan; baik jaman penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, maupun di alam pembangunan Indonesia merdeka.

Bagi orang Dayak sendiri, tulisan-tulisan tentang Dayak tersebut menyadarkan mereka dari keterlenaan akibat penjajahan dalam berbagai bentuk pembangunan. Begitu dahsyat pengaruh tulisan-tulisan yang obyektif tentang manusia dan kebudayaan Dayak, menggugah kembali kepercayaan diri bagi masyarakat Dayak. Tulisan-tulisan yang obyektif tentang manusia dan kebudayaan Dayak mampu memberdayakan orang Dayak. Mereka sadar akan nasib mereka yang terancam, sehingga bangkit kembali.

Bagi Pemerintah sendiri, tulisan-tulisan obyektif tersebut sedikit banyak telah membuat mereka mengubah kebijaksanaan pembangunan terhadap masyarakat Dayak. Betapa tidak, pembangunan yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi semata ternyata telah menempatkan Kalbar yang kaya raya sebagai provinsi termiskin kedua di Indonesia (BPS, 1996). Pembangunan yang berorientasi ekonomi dan tidak berpihak pada masyarakat adat telah pula menyebabkan kerusakan lingkungan hidup yang sangat parah di Kalimantan; punahnya flora dan fauna; hancurnya keanekaragaman hayati, serta terkikisnya kebudayaan Dayak akibat paham-paham yang membingkai pembangunan; seperti modernisasi, pendidikan formal, agama resmi, dan tekhnologi informasi.

Fakta yang diungkapkan di atas menggugah sejumlah intelekual Dayak di Pontianak untuk melakukan diskusi kritis, membuat penelitian kecil dan menuliskannya ke media massa. Tulisan ke media massa itu ternyata mendapat tanggapan serius dari berbagai pihak. Karena itulah maka tahun 1991 didirikan lembaga yang secara khusus mendokumentasikan, meneliti dan sekaligus menguatkan masyarakat Dayak. Yakni Institute of Dayakology Research and Development (IDRD).

Karena IDRD adalah lembaga penelitian, dan hasil penelitian itu biasanya menyebabkan banyak orang (pejabat dan pemerintah marah), maka untuk mengantisipasinya IDRD ketika itu menjadi cabang Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sosial-Konferensi Waligereja Indonesia (LP3S-KWI) di Jakarta. Tahun 1999 LP3S-IDRD diubah menjadi Yayasan Institut Dayakologi.

IDRD ketika itu mempunyai cukup banyak tulisan. Atas dasar itu dan tuntutan kebutuhan akan informasi tentang manusia dan kebudayaan Dayak sangat mendesak dan perlu penanganan serius, maka IDRD pada bulan Januari 1992 menerbitkan Kalimantan Review (KR) edisi perdana.

Sumber: http://www.kalimantanreview.com/sejarah1.htm