Jumat (16/9) sekitar pukul 17.30 WIB. Saya melintas di Jalan Veteran Pontianak. Di jalan itu, lalu lintas lancar. Namun, memasuki ruas Jalan Pahlawan, tepatnya di depan pasar Flamboyan, saya mulai terjebak kemacetan.

Memang setiap sore jalan ini selalu macet. Tumpahan kendaraan dari arah Jalan Veteran dan A Yani, serta arus kendaraan dari Jalan Gajahmada membuat jalur ini sumpek.

Apalagi, jika ada pedagang sayur dan buah-buahan merengsek maju, meletakkan dagangan mereka makin ke tengah jalan. Ditambah lagi, ada mobil pembeli yang terparkir di samping lapak itu. Praktis, jalan yang semestinya bisa digunakan untuk tiga mobil, menyempit hanya bisa untuk satu mobil. Bisa dibayangkan keadaannya.

Walaupun ruas ini tidak panjang – ratusan meter saja, namun, jika sudah terperangkap seperti itu, jarak tempuhnya bisa puluhan menit. Seperti sore kemarin itu, jarak tempuh untuk jarak yang sama menjadi lebih 20 menit.

Tapi hebatnya, meskipun tahu sumber kemacetan, para pedagang dan pembeli juga seperti anteng-anteng saja. Mereka seperti tidak peduli telah membuat masalah lalu lintas. Malah, saya lihat, ada pedagang buah rambutan yang justru memasang kayu untuk memagari jualannya agar tidak terlindas motor. “Pagar” itu telah membuat lapaknya semakin menjangkau ke jalan. Padahal nyata-nyata rambutannya itu sudah menjorok lebih satu meter ke badan jalan.

Saya menduga, andai saja ada motor yang menyentuh pagar itu mungkin pedagang akan ribut. Mungkin mereka akan marah.
Kemacetan tidak hanya di situ. Kemacetan juga sangat terasa di lampu merah menuju jembatan tol.

Untung hari itu ada polisi di sana. Polisi membantu mengatur arus dan mengurai kemacetan. Ada 2 kali lampu lalu lintas warna hijau menyala. Polisi memberi ruang waktu yang lebih lama untuk setiap kendaraan dari empat arah itu.

Saat tiba giliran kendaraan dari Flamboyan yang dibiarkan melintas, saya melihat masing-masing pengandara seperti kesusu ingin mendahului yang lain. Saya lihat beberapa motor berebut memasukkan ban depan agar bisa mendahului yang lain. Rasanya, sedikit saja alfa, kendaraan mereka akan menyenggol yang lain. Mungkin akan ada aksiden. Tetapi, hebatnya, sejauh ini, belum pernah saya lihat ada kecelakaan di tengah kepadatan arus ini.

Mengapa orang harus berebut? Saya teringat sebuah artikel ditulis oleh Umar Yunus, seorang sastrawan Indonesia di sebuah jurnal di Malaysia dulu. Dia menulis tentang budaya ‘amuk kiasu’ dan budaya kesusu dalam masyarakat Nusantara. Sayangnya, artikel ini juga tidak menjawab mengapa orang berbuat begitu. Artikel ini hanya menguraikan fenomena itu dengan contoh peristiwa di lampu merah. Dia membuat perbandingan antara prilaku di lampu merah orang Indonesia dengan orang di Singapura.

Memasuki atas jembatan tol, arus lalu lintas baru terasa longgar. Walaupun belum benar-benar longgar. Tetapi di balik kelegaan itu, lalu lintas di tol Kapuas 1 ini sering membuat saya spot jantung. Orang juga, lagi-lagi kesusu. Saling mendahului. Garis panjang bersambung di tengah jembatan tol (marka jalan) tidak memberikan arti apa-apa bagi pengendara. Garis yang kononnya petanda dilarang mendahului, agaknya bagi banyak pengguna jalan hanya merupakan cat tumpah di tengah jalan, atau hapalan yang hanya berguna untuk mengurus surat izin mengemudi (SIM). Justru kebiasaan itulah yang membuat beberapa kali kecelakaan di atas jembatan tol. Mengerikan.

Masuk ke Jalan Sultan Hamid, kemacetan terjadi lagi. Kemacetan ini sampai ke lampu merah simpang Tanjung Raya. Keadaan sore itu di ruas ini agak kurang macetnya. Saya selalu terkesan pada Simpang Tanjung Raya ini jika melintasnya di sore hari Minggu. Hampir selalu macet. Padahal, menurut hitung-hitungan, seharusnya ruas jalan ini masih dapat menampung kendaraan tanpa macet.

Lalu mengapa masih saja macet? Penyebabnya adalah kesusu itu lagi. Orang saling rebutan melintas di sini. Lampu merah sering mereka langgar. Malah, saya dan beberapa teman pernah menjadi sasaran ketidaksabaran pelintas. Hari itu, saya bersama seorang wartawan berhenti di lampu merah setelah turun dari tol. Saat kami berhenti, orang membunyikan klakson dari belakang. Minta lewat. Kami tak peduli.
“Oi, lampu merah tak pakai!”

Ihwal rebutan melintas tanpa peduli lampu merah inilah yang sering bikin macet di simpang ini di Minggu sore. Ketika beberapa kendaraan bertemu di satu titik, ketika tak ada yang mau mengalah, pada saat itulah kemacetan terjadi. Pada saat seperti itu, barulah setiap orang menyadari bahwa mereka terpaksa harus bersabar. Jika pun marah, menumpahkan kemarahan dengan menekan klakson berterusan.

Penulis: Yusriadi
Sumber: Borneotribune
Senin, 19 September 2011 08:19