PONTIANAK, KOMPAS.com — Seorang warga Simpang Dua (sekitar 240 kilometer dari Kota Pontianak) yang menjadi dosen perguruan tinggi swasta di Kota Pontianak, Maran (41), mengaku pernah melihat sosok Kek Tung. Saat itu, dia masih usia SMP dan hendak mandi di sungai seorang diri pada sore hari, sekitar pukul enam.

Di sungai itu berdiri pohon tengkawang yang besar. Di atasnya, dia mendengar suara sayup togukng. Ia pun menengadah, mengarahkan pandangannya ke ketinggian pohon yang sekitar 30-40 meter itu.

Suasana yang mulai agak gelap membuat pandangannya remang-remang melihat satu sosok bergerak dari satu ranting ke ranting lainnya. Suara “kung-kung-kung” terdengar sayup dalam interval yang lambat.

“Saat itu, jiwa saya masih kanak-kanak, jadi tak menyadari kalau itu sebenarnya togukng. Sengaja saya pandang di ketinggian, sosoknya seperti macan tutul, kombinasi warna hitam-putih agak abu-abu. Ukuran tubuh kira-kira sebesar beruang,” kenang Maran.

Maran kecil pun mandi dengan tenang, tanpa syak wasangka. Nah, begitu pulang ke rumah yang tak begitu jauh dari sungai, neneknya segera menyambut di depan pintu.

Sang nenek menanyakan, apakah dia mendengar suara togukng? Ternyata, wanita tua itu ikut mendengar suara itu dari rumah. “Itu tadi suara togukng, ayo cepat masuk ke rumah,” ujar neneknya dengan wajah cemas.

Begitu menyadari baru melihat makhluk mistis yang selama ini hanya didengarnya dari penuturan orangtua, barulah dia merasa ketakutan. Wujud togukng tak hanya dijumpai dalam bentuk yang pernah dilihat Maran.

Pada saat tertentu, bisa juga makhluk ini menyerupai kelempiau (sejenis kera) belang hitam-putih. Kala itu, Maran telah menjadi mahasiswa, dan saat liburan ke kampung, dia seperti biasa masuk ke hutan.

“Karena saya sudah banyak mempelajari tentang togukng, jadi tak kaget lagi saat menjumpai kelempiau aneh itu. Orangtua berpesan, jika berjumpa makhluk ini, biarkan saja, jangan diganggu,” tutur Maran.

Togukng yang bisa menyerupai satwa kelempiau ini dibenarkan Adoria Nitty (47), petinggi adat Banua Simpakng, yang kesehariannya mendapat mandat sebagai tetua adat di Desa Banjur Karab, Kecamatan Simpang Dua. Sebagai hewan mistis setengah hantu, makhluk ini bisa berubah bentuk. Mulanya remaong, sejenis kucing hutan yang besar.

Setelah itu, bentuknya meningkat menjadi remaong daan atau macan dahan, kemudian menjadi macan sebagai bentuk tertinggi. Nah, setelah jadi macan, bisa berubah bentuk menyerupai binatang lain, seperti kelempiau putih atau macan tutul.
Sekitar empat tahun lalu, Nitty juga bertemu togukng, saat menjenguk jeratnya di dalam hutan. Jerat itu dipasang sebagai perangkap hewan buruan, seperti babi hutan.

“Waktu itu, saya berada di hutan Pondok Lebam. Bentuknya rimba utuh yang belum dijamah manusia, di kawasan Hutan Lindung Gunung Juring, wilayah Simpang Dua. Saat itu siang hari, saya kaget mendengar suara menyerupai kucing. Dia muncul di suatu tikungan jalan, berupa kucing besar,” kata Nitty.

Sosok itu berada di atas pohon sejauh 200 meter dari tempat Nitty berada. Meski perannya di kampung sebagai petinggi adat, tetap saja akal sehatnya seakan hilang saat itu. “Saya mengarahkan senapan lantak ke sosok itu, terus menembak. Ternyata salah, dan kucing besar itu lari,” kisah Nitty.

Namun saat bergerak beberapa langkah, sosok itu kembali terlihat hinggap dengan posisi melintang di sebuah pohon. Ia membidik kedua kalinya dan diduga kena.

“Saya temukan bulunya berceceran, tapi tak ada jejaknya. Tapi hati kecil saya menyesal bukan kepalang, mengapa sampai saya membidik togukng,” ungkap Nitty.

Menurut Nitty, togukng punya gaya terbang yang unik. Ia selalu hinggap dengan posisi melintangi batang pohon, bukan membujur seperti layaknya hewan hutan lainnya, seperti memeluk pohon dengan gaya melintang. (bersambung)

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Severianus Endi
Sumber: Kompas.com
Selasa, 16 Februari 2010 | 10:34 WIB