Danau Sentarum, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. © WWF-Indonesia/Jimmy Syahirsyah

Danau Sentarum, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. © WWF-Indonesia/Jimmy Syahirsyah


KOMPAS.com – Kecantikan Danau Sentarum tidaklah “murah”. Itulah yang sempat dialami tim Kompas TV yang menjelajahi Indonesia untuk program “100 Hari Keliling Indonesia”.

Anggun Wicaksono, salah satu tim “100 Hari Keliling Indonesia”, mengingat kembali perjalanannya saat berada di Kalimantan Barat. Ia menuturkan dari Pontianak, perjalanan berlanjut ke Taman Nasional Danau Sentarum.

“Jalannya hancur banget. Sumpah, pegal banget. Jam tujuh pagi berangkat dari Pontianak, singgah dulu di Sintang jam 9 malam. Dari Sintang ke Semitau, lalu ke Taman Nasional Danau Sentarum,” tuturnya kepada Kompas.com, beberapa waktu yang lalu.

Untuk menuju Taman Nasional Danau Sentarum, tim harus menaiki perahu semacam long boat selama tujuh jam perjalanan menyusuri sungai. Dari Semitau, mereka berangkat jam empat sore.

“Agak menyeramkan berada di long boat malam-malam. Soalnya waktu itu hujan, arus deras, dan gelap banget. Jadi lumayan menegangkan. Apalagi satu-satu penerangan cuma satu senter kecil. Air sempat masuk ke dalam perahu karena kita nabrak keramba,” katanya.

Akhirnya mereka sampai juga di tepi Danau Sentarum pada malam hari. Mereka pun bermalam di sebuah resor di tepian danau. Menurut Anggun, danau tersebut merupakan hasil percabangan banyak sungai. Jika musim kemarau, danau hanya berupa daratan. Sebaliknya di musim hujan akan menjadi danau.

“Malam hari saat tiba, belum terlihat danau seperti apa. Tapi besok paginya terbayar sudah perjalanan kami. Danau Sentarum cantik sekali,” kenang Anggun.

Anggun mengibaratkan Danau Sentarum seperti area Arsipel di Taman Mini Indonesia Indah. Sebuah danau yang seolah-olah memiliki pulau-pulau kecil.

“Tapi ini versi lebih besar dan lebih cantik lagi. Pohon-pohon besar kalau musim kemarau jadi daratan. Tapi kalau musim hujan, jadi seperti pulau-pulau,” katanya.

Apalagi ia sempat ke naik ke Bukit Tekenang dan mendapatkan panorama Taman Nasional Danau Sentarum yang lebih cantik lagi. Lagi-lagi, ungkap Anggun, wisatawan yang ia jumpai adalah turis asing.

“Datang ke sana, lagi-lagi orang asing, nggak ada orang Indonesia. Saya ketemu empat turis, orang Belanda. Dia katanya tahu Danau Sentarum dari Lonely Planet dan Komunitas Backpacker,” kata Anggun.

Namun, ia tak heran juga jika turis domestik masih jarang ke kawasan ini. Sebab untuk menyewa long boat per hari saja harus mengeluarkan uang sebesar Rp 1 juta. Perahu ini berkapasitas enam orang.

“Jadinya memang mahal. Tapi sewa long boat ini bisa buat seharian. Lagi pula, perjuangan banget untuk menuju ke Danau Sentarum dan harus bawa logistik sendiri,” katanya.

Dalam program “100 Hari Keliling Indonesia”, Ramon akan memulai perjalanan dari Jakarta, menuju Sumatera, kemudian Kalimantan. Lalu berlanjut ke Sulawesi, Papua, Ambon, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali. Perjalanan kemudian berakhir di Pulau Jawa, tepatnya kembali di Jakarta.

Tak hanya sekadar panorama dan segala keindahan bumi Indonesia yang akan diangkat. Melainkan juga sisi budaya, masalah sosial, dan masalah lingkungan, sampai problematika transportasi yang dihadapi Ramon selama perjalanan.

Sumber:
http://travel.kompas.com/read/2013/04/10/11590472/Kecantikan.Danau.Sentarum.yang.Tak.Murah
Senin, 5 September 2016
Editor : kadek