KR edisi perdana yang diterbitkan 2 kali setahun merupakan sebuah jurnal ilmiah; ada daftar pustaka, biodata penulis dan tidak ada satu pun berita. Isinya merupakan tulisan aktivis IDRD tentang berbagai aspek yang berhubungan dengan manusia dan budaya Dayak. Karena ketika itu kekuasaan rezim orde baru sangat kuat, maka KR membuat moto sebagai “Media Informasi Kebudayaan dan Pembangunan” agar aman.

Muatan KR 58 halaman (isi + cover), berukuran setengah folio; kertas HVS putih, sampul ada motif ukiran Dayak berwarna merah hati. Tulisan hitam dengan latar belakang putih dan tanpa gambar. KR diketik dengan program Wordstar. Komputer untuk mengerjakan KR dipinjam dari satu-satunya milik Yayasan Pancur Kasih. Dicetak 500 eksemplar dan dijual Rp1.500/eksemplar.

Isi KR Nomor 01 Tahun I/ Januari-Juni 1992 sebagai berikut:

  1. Mencari identitas suatu kebudayaan. Ini adalah semacam tajuk rencana KR (kini namanya Suara Burung) yang dari edisi perdana hingga kini ditulis oleh P. Florus.
  2. Manusia Dayak: Manifestasi Perilaku dan Perbuatannya oleh Albert Rufinus(Direktur IDRD kala itu)
  3. Dayak, Dyak, Daya, dan Daya; Cermin kekaburan sebuah identitas oleh S. Djuweng.
  4. Manusia Dayak dan Konsep Pemikirannya oleh Nico Andasputra.
  5. Catatan tentang tradisi pada orang Mualang oleh P. Florus.
  6. Nilai Budaya Dayak Kalbar dalam Arus Modernisasi oleh Bahari Sinju.
  7. Kayan Oral Literature: Mendalam West Kalimantan (a Filed Report) oleh Stefanie Morgan
  8. Resensi buku karangan Viktor T. King berjudul The Maloh of West Kalimantan: An ethnographic study of social inequality and social change among an Indonesia Borneo People.

Sengaja KR edisi awal, isinya sebagian berbahasa Inggris. Tujuannya agar orang yang tidak bisa berbahasa Indonesia mendapat pengetahuan tentang manusia dan kebudayaan Dayak.

Selain tulisan opini, KR edisi perdana juga memuat beberapa peribahasa Dayak dan humor tentang nasib pilu manusia dan kebudayaan Dayak yang cukup berani. KR tergolong berani karena di rezim orde baru yang kontrol pemerintah terhadap pers yang sangat ketat, KR terbit tanpa selembar pun surat legalitas dari lembaga pemerintah ketika KR edisi perdana diterbitkan. Struktur pengelola KR edisi pertama sebagai berikut:

Penanggung Jawab : R. Hardaputranta, SJ.
Ketua Pengarah : V. Julipin
Ketua Penyunting : Nico Andasputra
Staf Redaksi : Stepanus Djuweng, Paulus Florus, John Bamba, Albert
Rufinus, FY. Khosmas dan Petronela Regina.
Pemasaran :Y. Kaping, Binus, Sekundus Jedi
Alamat : Jl. Selat Sumba 3, PO.Box 499 Pontianak 78243A- Indonesia

Ketika pertama diterbitkan tidak ada fasilitas KR. Mesin tik, komputer, kertas, printer dan sekretariat menumpang di salah satu ruangan Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih berukuran 2 x 2 meter.

Meski cukup banyak nama di staf redaksi tapi yang bekerja penuh hanya Nico Andasputra saja.Vincent Julipin ditempatkan sebagai pengarah karena ia wartawan harian Akcaya, sehingga jika berhubungan dengan pihak luar bisa dipermudah. Manajemen redaksi ibarat tukang sate: menulis/mencari bahan (menghubungi penulis), mengetik ulang & mengedit, me-lay out, mencetak dan memasarkan.

Di luar dugaan, ternyata KR yang sangat sederhana itu diminati cukup banyak orang. Bukan hanya orang Dayak, tapi juga non Dayak. KR seolah menjadi pengobat rindu keingintahuan orang tentang Dayak. Apalagi ketika itu penguasa sangat otoriter. KR seolah menjadi simbol pembelaan orang Dayak atas dirinya. KR dianggap berani karena memuat tulisan yang menyoroti dampak negatif “pembangunan”, modernisasi terhadap manusia dan kebudayaan Dayak.

Karena berbagai masukan dari pembaca, KR edisi kedua mulai ada perubahan, khususnya muatan dan harga. Sebagian besar isinya masih tulisan opini; bahasa Indonesia dan Inggris (penulis dalam dan luar negeri). Ada rubrik baru, yakni berita budaya dan tulisan laporan perjalanan (news feature) S. Djuweng ke Perancis menghadiri undangan CCFD. Harga dinaikkan dari Rp1.500 menjadi Rp2.000/eksemplar dan isi menjadi 68 halaman.

Tahun 1993 KR mulai dinaikkan frekuensi terbitnya menjadi 3 kali setahun. Susunan redaksi ada perubahan, yakni pemasaran hanya diurus Herman Ivo (kini menjadi anggota DPRD Provinsi Kalbar periode 2004-2009). Atas inisiatif Herman Ivo (dosen FKIP Univ. Tanjungpura-kala itu) motif ukuran Dayak yang dalam 2 nomor terdahulu berwarna merah diubah jadi biru. Jumlah halaman diturunkan dari 68 menjadi 52. Pada halaman depan (dalam) dicantumkan STT dalam proses. Mulai edisi ini KR mengurus Surat Tanda Terbit sehingga selalu dicantumkan kalimat “STT Dalam Proses”. Isi masih sama: tulisan opini tentang manusia dan kebudayaan Dayak, berita budaya dan ada 1 berita umum tentang masalah masyarakat adat.

Dalam KR edisi 04 Tahun II/ Mei-Agustus 1993 ada rubrik baru bernama catatan pinggir yang ditulis P. Florus. Pada edisi 05 Tahun II/September-Desember 1993 ada rubrik baru “sastra lisan” dan puisi.

Perhatian kepada KR semakin meningkat. KR menjadi satu-satunya media cetak tentang manusia dan kebudayaan Dayak di Indonesia. KR 2 tahun terakhir lebih banyak menjadi referensi ilmiah. Karena tuntutan pembaca, tahun 1994 (No.06, Tahun III/Januari-Maret 1994) ada sejumlah perubahan. Frekuensi terbitan menjadi 4 kali setahun, sampul sudah bergambar pignet, oplah dinaikkan menjadi 1.000 eksemplar. KR edisi ini sudah mempunyai International Standar Series Number (ISSN) Nomor 0854-4646. Artinya KR tercatat di perpustakaan nasional sebagai terbitan resmi dan bisa dijadikan bahan referensi ilmiah. KR juga mempunyai surat persetujuan menerbitkan dari Kanwil Depdikbud Kalbar No.465/114/U/1993.

Di jajaran redaksi Yohanes Eugene (seniman lukis Kalbar) sebagai ilustrator dan staf pemasaran digantikan Yulius Lay. Perubahan yang sangat mencolok adalah muatan dan jenis kertas isi. Rubrik di KR adalah: Suara Burung, Review Kita, Manusia dan Tradisi, Sekitar Kita, Batimang, Solidaritas, Peristiwa, bedah buku, dan warisan. Setiap rubrik ada logonya dan ada pignet. Kertas diubah dari HVS putih menjadi kertas koran. Jumlah halaman dinaikkan lagi menjadi 68.

Isi KR mulai berubah tidak hanya memuat tulisan opini; tapi ada hiburan dan berita-berita. Edisi 07, Tahun III/April-Juni 1994 sampul dan isi KR memakai foto hitam putih. Ada rubrik baru bernama humor.

Edisi 08, Juli-September 1994 porsi berita semakin besar, sekitar 10%. Pada edisi ini ada rubrik baru bernama catatan lepas yang menyita 17 dari 64 halaman.

Edisi 09, Oktober-Desember 1994 sampul KR pertama kalinya berwarna (full collor). Yakni gambar pembakaran basecamp PT Lingga Teja Wana oleh warga Dayak Krio (Ketapang). Tulisan di cover depan KR mulai menyentak pembaca: “Tanah: Darah dan Semangat”. Edisi ini banyak mendapat perhatian pembaca karena KR dinilai sangat berani karena memajang foto dan tulisan cover demikian.

Isi KR edisi ini mulai beragam, tidak hanya tentang budaya Dayak, tapi aneka persoalan yang berkaitan dengan manusia Dayak (alam, hubungan antar etnis,ekonomi, politik, sosial, dll). Porsi berita mulai banyak. Sampul belakang (dalam dan luar) yang edisi-edisi sebelumnya polos, mulai edisi ini diisi dengan iklan ucapan selamat hari Natal 1994 dan Tahun Baru 1995.

Pada edisi 10, Januari -Maret 1995 KR membuat rubrik baru bernama Laporan Khusus. Yakni tentang bendungan Bintawa Lima (di Kec. Sengah Temila) yang akan menenggelamkan 105 warga Dayak Kanayatn di Desa Bintawa Lima). Rubrik solidaritas dihilangkan; isi ditambah menjadi 72. Edisi 11, April-Juni 1995, tampilan, rubrik, jumlah halaman persis sama dengan edisi 10.Pada edisi 12, Juli-September 1995 ada perubahan pengelola dan alamat redaksi. Yulius Lay sebagai pemasaran diganti Ajin Vinsensius. Redaksi pindah dari Jl. Alianyang ke Jl. Imam Bonjol 29. Dalam edisi 12 KR memuat lebih banyak berita liputan. Kertas isi yang semula kertas koran diganti kertas HVS putih.

Edisi 13, Oktober-Desember 1995 isi halaman dikurangi dari 68 menjadi 56. Porsi berita berimbang dengan tulisan opini. Tahun 1996 KR menambah oplah dan frekuensi terbitan. Oplah dinaikkan dari 1.000 menjadi 1.500 eksemplar tiap dua bulan. Dalam edisi 14, Januari-Maret 1996 dibuat rubrik baru bernama Tajau. Isi tajau adalah cerita foto yang unik dari berbagai subsuku Dayak di Kalbar.

Edisi 16, Mei-Juni 1996 KR menyentak perhatian pembaca dengan berita Ngabang Berdarah (kerusuhan massa antara pasukan Rai Armed di Ngabang dengan masyarakat (Dayak utamanya) Ngabang. Kala itu tidak ada media umum yang berani memuat peristiwa itu secara detil. KR memuatnya. Edisi 16 jumlah halaman dinaikkan menjadi 72.

Edisi 17, Juli-Agustus 1996 di jajaran redaksi KR ditambah Edi Petebang. Edi dan Nico Andasputra yang menyiapkan bahan, lay out sampai mengantar ke percetakan. Edisi-edisi sebelumnya yang full mengerjakan KR hanya Nico Andasputra. Vincent Julipin sebagai pengarah dan menyuplai beberapa berita. Karena ia aktif menulis di Harian Akcaya, kemudian Suara Pembaruan (Jakarta). Dalam edisi 17 halaman KR dikurangi dari 72 tinggal 56.

Mulai edisi 18, September-Oktober 1996 ada beberapa perubahan, khususnya dalam cara penyajian. Kalau sebelumnya tulisan utama (Adat Talino) merupakan tulisan opini orang non KR yang diminta, mulai edisi ini rubrik Adat Talino tidak lagi diisi orang di luar KR. Tulisan berjudul “Keluarga Berencana: Dilema Bagi Masyarakat Adat” yang ditulis redaksi KR (Edi Petebang) merupakan tulisan semi ilmiah populer pertama KR. Penulis melihat kasus di lapangan, lalu mengkompilasikannya dengan berbagai sumber, referensi. Pada edisi ini dibuat rubrik Kontak Pembaca. Tujuannya agar KR dekat dengan pembaca dan mengetahui tanggapan pembaca.

Mulai edisi ini redaksi KR harus membuat tulisan untuk rubrik Adat Talino dan laporan khusus. Artinya sudah menjalankan pekerjaan jurnalistik seperti media massa umumnya.

Dalam edisi 18, KR pertama kalinya melakukan self sensorship. Yakni pada rubrik Tagas berjudul Tanah dan Pembangunan. Tulisan ini adalah kesimpulan konferensi INFID di Australia, yang salah satu isinya agar Pemerintah RI mencabut UU Agraria, Mencabut 5 UU Politik. Sewaktu perencanaan tulisan itu tidak masalah. Setelah terbit (sebelum diedarkan luas-sudah ada belasan eksemplar yang diedarkan kemudian ditarik lagi)- di Jakarta Presiden Soeharto marah dengan NGO. Maka tulisan itu dibuang, diganti tulisan “Musik Vokal Kana Sera Dalam Persfektif Antropologi” yang ditulis Elias Ngiuk. Jangan heran dalam daftar isi tertulis Tanah dan Pembangunan tapi isinya Musik Kana Sera.

Mulai KR No.19, November-Desember 1996 Nico Andasputra melepaskan KR sepenuhnya kepada Edi Petebang. Edi lah yang mencari berita, membuat tulisan, lay out, ke percetakan, bahkan terkadang mendistribusikan.

KR kembali melakukan self sensorship pada edisi 20, Januari-Februari 1997. Tulisan Adat Talino berjudul Agama Asli dalam Masyarakat Adat halaman pertama harus dibuang karena mempertanyakan mengapa negara mengatur agama. Waktu itu Pancasila dan UUD 11945 sakral, tidak boleh dikritik. KR yang beberapa puluh eksemplar sudah diedarkan ditarik kembali dan diganti dengan tulisan yang lebih lunak. Terpaksalah awak KR (Edi Petebang dan Ajin Vinsensius) menempelkan satu persatu halaman revisi tersebut.

Karena bulan Desember 1996-Februari 1997 ada kerusuhan Madura-Dayak di Kalbar yang menyebabkan aktivitas KR (dan IDRD) terhenti, maka edisi 21, Maret-April digabung dengan edisi 22, Mei-Juni 1997. KR edisi ini 76 halaman.

Sumber: http://www.kalimantanreview.com/sejarah2.htm