Babi hutan bukan merupakan hewan haram bagi komunitas Dayak. Selain sebagai kurban persembahan dalam upacara adat, daging babi juga dimakan. Sementara daging anjing dan monyet menjadi menu “kuliner” masyarakat Dayak setelah intervensi anggota TNI asal Sumatera Utara. Sebelum tahun 1960-an, daging anjing dan daging monyet tabu untuk disantap. Pasokan bahan pangan dari alam dinilai masih cukup tersedia.

PONTIANAK – Operasi penumpasan pemberontakan Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak/Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (PGRS/Paraku), 1967 – 1982, menyisakan kenangan tersendiri bagi masyarakat di perbatasan Indonesia – Malaysia di Kecamatan Puring Kencana, Kecamatan Ampanang dan Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat.

Salah satu kenangan yang tidak bisa dilupakan oleh masyarakat Suku Dayak di perbatasan adalah keberadaan Pasukan Para Sumatera Utara (Parasum) yang terlibat langsung bersama masyarakat lokal di dalam operasi penumpasan sisa-sisa kekuatan PGRS/Paraku.

Laurentius Herman Kadir (73 tahun), pelaku dan saksi sejarah, mantan Wakil Gubernur Kalimantan Barat, 2003 – 2008, mengatakan,  nyaris tidak ada sekat pemisah antara warga dengan tentara. Bahkan,  di dalam budaya kuliner, Parasum sangat mudah menarik simpati   masyarakat lokal Suku Dayak.

Secara tidak langsung, menurut Kadir yang juga warga Suku Dayak Kantuk, anggota Parasum telah melakukan intervensi positif di dalam akulturasi budaya kuliner di kalangan Suku Dayak di perbatasan. Salah satunya, anggota Parasum lah yang pertama kali memperkenalkan kepada warga Dayak di perbatasan, bahwa daging anjing, monyet, kucing dan ular sawah, memang bisa disantap, asalkan selama proses memasaknya mesti dilengkapi bumbu yang memadai, tapi mudah diperoleh di lingkungan sekitar.

Pasokan Makanan
Sebelum tahun 1960-an, daging anjing dan daging monyet tabu untuk disantap, karena pasokan bahan pangan lainnya dari alam masih cukup tersedia. Sebelumnya monyet hanya dilihat sebagai hama bagi masyarakat Suku Dayak di perbatasan, karena selalu mencuri berbagai jenis tanaman di ladang setiap menjelang musim panen.

Sedangkan anjing, sebelumnya hanya dijadikan teman setia masyarakat untuk berburu babi dan rusa di hutan belantara.

“Tapi setelah kedatangan Parasum dalam  operasi penumpasan PGRS/Paraku, santapan daging anjing dan monyet, malah menjadi bahan pendukung setiap kali warga minum tuak,” kata Kadir. 
   
Ketika konfrontasi Indonesia – Malaysia tengah berkecamuk di sepanjang perbatasan di Provinsi Kalimantan Barat, Kadir masih tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Sekretariat Daerah Kabupaten Kapuas Hulu. Pemantauan ke wilayah perbatasan selama konfrontasi berlangsung, rutin dilakukan Kadir.

Sepanjang tahun 1964, Kadir mencatat beberapa insiden selama konfrontasi yang tidak mungkin dilupakannya dan warga.

Di awal tahun 1964, Kadir pernah berkeliling di sepanjang perbatasan di Kabupaten Kapuas Hulu, mulai dari Kecamatan Tanah Batang Lupar (Lanjak – Badau – Empanang), dalam rangka mengunjungi pos-pos di perbatasan.

Sumber: Sinar Harapan, Aju – Kamis, 04 Juli 2013 | 10:59:00 Wib
Diunggah: Senin, 16 Desember 2013 | 09:44 WIB