Dalam gelombang panas
Ibu menambah kuah gula dan kelapa
bersarung merah daster tembaga
ia titipkan matanya
dalam liuk api
yang menenteramkan cinta.

(Puisi Kacang Hijau)

BETAPA sederhana, betapa mengejutkan. “Metafora Hanna Fransisca memang mengejutkan karena dia menggunakan majas dari dunia kuliner,” kata penyair Sapardi Djoko Damono, yang menjadi salah satu juri pemilihan Buku Sastra Terbaik pilihan Tempo 2010.

Sepotong puisi karya Hanna Fransisca itu mengisahkan seorang ibu yang sedang memasak kacang hijau. Tapi Hanna tiba-tiba memasukkan sang ibu ke dalam masakannya: Hingga senja tiba/menunggu usia binasa/Ibu menuangkan seluruh dirinya/ke dalam mangkuk, lalu menitipkan anak-anaknya/pada hidup yang akan menjadikannya/dewasa.

Nasib yang dimasak dan memasak menyatu di dalam puisi itu. Kacang hijau menjadi majas sebuah kesetiaan dan pengabdian seumur hidup seorang ibu kepada anak-anaknya. Hanna menguncinya dalam bait terakhir: Ini kacang hijau/atau hatimukah/yang kami makan hari ini/bersama Tuhan yang selalu/kauajak/bicara.

Tantangan utama bagi para penyair masa kini adalah upaya melepaskan diri dari bayang-bayang penyair pendahulunya, katakanlah Amir Hamzah, Chairil Anwar, Goenawan Mohamad, dan Sapardi Djoko Damono. Mengingkari keterpengaruhan mereka adalah sesuatu yang mustahil, tapi mengekor pada mereka jelas tak menyumbang banyak pada perkembangan sastra Indonesia. Yang pasti, hingga kini jejak para penyair klasik masih tampak nyata atau samar dalam banyak karya penyair generasi saat ini.

Lahir di Singkawang, Kalimantan Barat, 30 Mei 1979, Hanna Fransisca adalah penyair generasi baru yang memahami hal ini dan mencoba membuka jalannya sendiri. Pertama, Hanna tak mengejar kerumitan bahasa, tapi memanfaatkan bahasa sehari-hari yang mudah dimengerti, tanpa beban, dan, meski begitu, tak sampai kehilangan tenaga dalam diksinya. Kedua, dalam kumpulan puisi perdana Konde Penyair Han dia memunculkan serangkaian majas dengan suatu cara baru, cara yang belum dilakukan para penyair lain. Itulah beberapa alasan mengapa Tempo memilih Hanna sebagai tokoh sastra tahun ini.

Dalam puisi Surat buat Pahlawan, Hanna mengolah peristiwa pemotongan bebek Peking sebagai sebuah majas yang ironis. Mulai judul, puisi itu sudah menahbiskan sang bebek sebagai pahlawan yang harus menjadi korban. Dalam puisi 13 bait itu ia menggambarkan proses penyembelihan seekor bebek jantan, yang dia sebut “kekasih”, yang nanti akan dimasak menjadi sebuah hidangan. Uraiannya yang terperinci menunjukkan pengamatannya yang cermat terhadap peristiwa yang sebenarnya biasa terjadi dalam keseharian.

Bila dilepaskan dari konteksnya, bait-bait puisi itu melukiskan sebuah kekerasan: Berjuanglah kekasih, di rentang tali/sepanjang sungai mengalir/yang mengikat lehermu, dalam tali simpul mati/agar rentang sayap dan kakimu bebas menari.

Sang bebek diajak menerima takdirnya untuk dikorbankan, sama seperti nasib anjing yang belum genap umur yang harus “Dibekap mulut dalam karung/dibentur batu”. Atau nasib babi panggang “yang ditikam besi panjang sebelum maut/benar menjemput?” Tapi pengorbanan adalah sebuah bakti, yang terjadi semata “demi nama baik” sang bebek, karena ganjarannya adalah “Di alam tempat segala kebaikan/Di mana Tuhan/selalu bersemayam”.

Hanna juga menyinggung hubungan sang bebek dengan betinanya sebelum penyembelihan: jikalau ada pacar sempat mampir/dalam semalam, pamitlah sebelum fajar/Sebab tajam pisau di lehermu nanti/akan menjadi doa terakhir bagi betinamu yang khawatir.

Hanna tidak mengubah sang bebek sebagai aku-liris-suatu cara yang telah dieksplorasi banyak penyair, terutama Sapardi Djoko Damono. Sebaliknya, ia mempertahankan dirinya sebagai akuliris yang berempati pada sang pahlawan dan, dengan demikian, dapat mengomentarinya.

Namun penyair Han ini juga menggunakan kata “pacar”, “kekasih”, dan “betina”. Pada beberapa puisinya yang lain, dia juga menggunakan “ibu” dan “anak perempuanku”. Dari puisi-puisi itu kita dapat menangkap suatu tafsir Hanna soal gender. Dia menunjukkan keutamaan perempuan sekaligus perannya sebagai pelengkap dan penderita. Strategi itu bisa diurainya dengan mulus melalui majas penyembelihan bebek dan majas kuliner lain.

Puisi kuliner seperti Puisi Kacang Hijau muncul di beberapa puisinya yang lain. Dalam Pesta Api Bersamamu Pagi Hari, Hanna menggambarkan sebuah pertengkaran antara aku-liris dan kekasihnya dengan menggambarkan “sepasang sumpit yang mengarungi panas gelombang sup”. Sumpit itu pula yang mendorong nasib “hingga masuk ke ujung mulut, bertemu lidah pahitmu/yang bertahun kutanam dalam lidahku”.

Perkara kuliner, dari memasak hingga makan, terbilang jarang diolah para sastrawan Indonesia. Hanna justru memanfaatkannya sebagai majas yang efektif dan menggoda pembaca untuk menafsirnya. Tapi hal itu juga didukung kemampuan Hanna bercerita dengan lancar, khususnya dalam sajak-sajak panjang, seperti Kepada Kerbau, yang mengisahkan keluarga petani yang bahagia akhirnya dapat memiliki seekor kerbau yang dapat membantu membajak sawah. Tapi masa paceklik tiba, “Padahal ia mulai belajar menulis:/’Aku mencintai rumah ini'” dan diakhiri dengan sebuah tragedi: Ayah yang lelah, membisikkan kata sayang begitu pasrah/lalu menggiringnya pergi/menjadi tiada.

Hanna Fransisca mengaku sebagai orang yang amat menikmati makanan dan suka menjelajahi makanan yang begitu menakjubkan. “Di dalam spirit keberagamaan yang saya yakini, makanan tidak hanya sebatas bentuk fisik dan rasa, tapi juga simbol,” kata pengarang yang menempuh pendidikan hingga lulus SMP dan belajar menulis secara otodidak ini.

Hanna menganggap makanan adalah kehidupan karena diproses dari segala yang hidup. Dia kadang menjalani hidup sebagai vegetarian dan menghayati bagaimana makanan menjelma menjadi sebuah dunia lain yang mau tidak mau harus menjadi korban demi keberlangsungan hidupnya. “Apakah Anda bisa mendengar jeritan kacang panjang ketika diiris oleh tajamnya pisau? Apakah Anda pernah mendengar rintihan tomat ketika darah merahnya mengucur? Seorang penyair bisa mendengar banyak hal, dan ini yang kemudian saya tuliskan dalam puisi-puisi yang disebutkan dengan istilah ‘puisi kuliner’,” kata Hanna.

Hanna banyak belajar menulis melalui pertemanannya di komunitas dunia maya, seperti Pembelajaran.com dan Forum Lingkar Pena Jakarta. Cerita pendek pertamanya, Darahku Tumpah di Kelenteng, terpilih sebagai salah satu cerpen pilihan Jakarta International Literary Festival 2008. Salah satu naskah lakonnya, Kawan Tidur, dibacakan oleh Saturday Acting Club dan Teater Tetas dalam Indonesia Dramatic Reading Festival 2010. Dia juga menulis sejumlah esai dan tulisan-tulisan motivasi yang dipublikasi di Andaluarbiasa.com. “Sekarang saya sedang merampungkan sebuah novel tentang Singkawang,” kata Hana.

Secara umum, puisi-puisi Zhu Yong Xia, nama Cina Hanna, bertema kemanusiaan. Di beberapa karyanya ia mengangkat tradisi-tradisi masyarakat Cina yang selama ini dihayati dan dijalaninya, seperti Cap Go Meh dan Hari Kue Bulan, tapi juga mengkritik keras tradisi masyarakat Cina yang dianggapnya tak adil, seperti dalam Perempuan tanpa Bulu. Di situ ia menulis: Di Pecinan hanya amoi yang mesti telanjang/sebab bulu bagi suami adalah hitungan rezeki/yang harus pasti.

Hanna juga sadar betul bahwa kaum-nya minoritas di negeri ini. Dan dengan penuh kesadaran, karyanya berisi protes dengan menunjukkan pengalaman pribadinya. Dalam Di Sudut Bibirmu Ada Sebutir Nasi, Hanna menyinggung soal stigma nama Cina di masa Orde Baru: Sebut sembarang saja/namanya: Aliong, Aliung, Along/atau nama lain seperti Hartono, Hartanto/Hardoyo. Atau nama lain semisal babi licik/maling baba-bukan pribumi. Dan dia menggambarkan luka sebuah penolakan: Setelah tak lulus SMP Negeri, setelah guru/tulen pribumi dengan pasti mengatainya:/”Di sudut bibirmu ada sebutir nasi. Bukan tempatmu tinggal di sini”.

Tapi Hanna juga belajar berdamai dengan dunianya dan tetap memilih Indonesia sebagai tanah airnya. Dalam Air Mata Tanah Air, yang ditujukannya untuk Abdurrahman Wahid, dia merumuskan tanah airnya: Tanah Air adalah kekasih/yang mengecup bibirmu di pintu surga/yang mendekapmu dengan wajah bercahaya/dan melihat di matamu/berenangan kilau wajah anak-anak/yang kelak akan lahir dari rahimmu.

Sumber: Majalah Tempo Online, 03 Januari 2011