Setiap suku serta etnis yang ada di Indonesia mempunyai ciri khas tertentu. Sebagai contoh adalah Etnis Melayu. Salah satu cirinya adalah memiiliki budaya pantun. Dalam berbagai acara, pantun juga menjadi sambutan yang membuat suasana segar. Di Kalbar, suguhan budaya berpantun bahkan diiringi dengan alunan musik kendang. Kesenian tersebut sering dikenal dengan tundang. Dalam perkembangannya, salah satu kesenian ini masih tetap mendapatkan tempat di hati masyarakat.

Dari seni ini dikenal salah seorang yang bernama Edi Ibrahim, penggagas lahirnya seni tersebut. Pertama kali kesenian ini dipentaskan saat acara Mutsabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) di Kabupaten Sanggau pada 1992. Ketika itu itu Edi sadar, jika hanya pantun yang disuguhkan akan kurang gregetnya. Maka dia kemudian mengiringi pantun tersebut dengan alat musik kendang.

“Dengan alunan musik yang mengiringi pantun, bersyukur sekali mendapatkan perhatian dari masyarakat yang ada. Dari sinilah saya mulai mengembangkan kesenian ini,” ungkap Edi.Pada tahun 2003, lanjutnya, terobosan yang dilakukannya mendapat perhatian dari pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Kesenian ini kemudian diboyong ke Jakarta untuk mengiuti Pameran Borneo Exstra Vagansa.“Hal itu membuat kami semangat, karena pemerintah memperhatikan kami. Terlebih perhatian terhadap kesenian ini, sehingga hal itu membuat kami menjadi lebih bersemangat,” tambah pimpinan Sanggar Pusaka yang beralamat di Sungai Berung, Kecamatan Segedong, Kabupaten Pontianak ini.
Dikatakan Edi, pada 2004 kesenian ini juga mengikuti pameran dalam Festival Keraton Nusantara IV, saat itu dilaksanakan di Yogyakarta. Kemudian pada 2005, kesenian tundang dibawa ke festival di Bali.

Selanjutnya kirpah mereka dipertontonkan pada 2006 di Natuna, 2007 di Tembelan, dan 2008 ke Tanjung Pinang.“Tahun 2005 adalah tahun keberuntungan, entah karena jurinya memakai kacamata hitam atau apa, kami mendapatkan anugerah penampilan terbaik. Waktu itu diikuti kesenian daerah dari Nusa Tenggara, Bali, dan Kalimantan,” paparnya sambil ketawa.Upaya dia untuk melestarikan kesenian tundang terus dilakukan. Banyak langkah yang sudah ditempuh. Salah satunya adalah menjadikan kesenian ini pelajaran ekstrakurikuler di tingkat sekolah. “Banyak sanggar yang sekarang berdiri sendiri, seperti yang ada di Punggur (Kubu Raya). Sekarang mereka sudah berjalan sendiri sebelumnya juga dari sanggar ini,” ujarnya.

Dalam pementasannya, kesenian tundang menggunakan berbagai peralatan musik. Sebut saja bedug, kentungan, tamboren, serta biola. Sekali pentas personil yang dilibatkan adalah 13 orang. “Biasanya yang membawakan pantun adalah dua orang laki-laki dan wanita, kemudian alat musik yang digunakan adalah jenis alat musik yang sudah mulai ditinggalkan masyarakat. Jadi kami juga melestarikan alat musik tradisional itu,” ungkapnya.Di Kalbar, seni tundang ini dapat dijumpai di tiga daerah yakni Kabupaten Pontianak, Kubu Raya, dan Kota Singkawang. Namun kemungkinan penyebutan istilah seni tersebut berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain. Kemudian dalam sekali pentas honor yang diterima terkecil adalah Rp700 ribu, namun kadang mencapai Rp2 juta.“Bisanya dalam sekali mentas dibutuhkan 15 menit. Pantun yang dibawa ada yang sepontan, juga ada yang memang sudah dipersiapakan. Waktu kedatangan Presiden SBY di Pendopo Gubernur, dari 15 pantun yang dipersiapkan, hanya tujuh yang bisa dibawakan, karena kena sensor,” pungkasnya. (***)

Penulis: FAHROZI
Sumber: http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=20618
Rabu, 24 Juni 2009 , 08:49:00