Pontianak – Sedikitnya tujuh sastrawan dan budayawan Kalimantan Barat akan menghadiri Dialog Borneo-Kalimantan (DBK) XI di Samarinda, Kalimantan Timur, yang dihelat 13 Juli – 15 Juli 2011. Pertemuan sastrawan berskala internasional ini, pernah dilaksanakan di Pontianak tahun 1995. Waktu itu, event sastra ini masih bernama Dialog Borneo.

Tujuh sastrawan dan budayawan Kalimantan Barat itu adalah Prof DR Chairil Effendi dan Mizar Bazarvio, keduanya akan memaparkan makalah sastra. Sastrawan lainnya H Satarudin Ramli, Pietra SAR, Yosi Pontian, Holil Azmi dan Pradono.

Pertemuan sastrawan lintasnegara ini dihadiri tiga negara. Indonesia meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur sebagai tuan rumah. Sedangkan Malaysia Timur meliputi negara bagian Sabah, Sarawak, Miri dan Labuan, dan Brunei Darussalam.

“Yang pasti, kami akan berangkat besok (12/7) ke Samarinda transit Jakarta. Awalnya acara ini akan digelar 5-7 Juli 2011,” jelas Ketua Harian Dewan Kesenian Kalimantan Barat (DKKB), H Satarudin Ramli.

Event sastra berkala internasional ini dinilai Satarudin, wajib dihadiri sastrawan Kalimantan Barat. Hal mendasar untuk mejalin hubungan kerjasama sesama para satrawan dan hubungan antar daerah dan negara serumpun berkaitan sastra. Apalagi para sastrawan daerah ini secara resmi mendapat undangan dari panitia.

“Kenapa kami nilai penting. Karena dalam acara itu akan dirumuskan kerjasama di bidang sastra dan budaya antarwilayah dan antarnegara di Borneo-Kalimantan,” tegas Satarudin yang diiayakan Pietra SAR selaku Ketua Komisi Sastra DKKB.

Perhelatan yang telah berlangsung sejak awal 90-an ini, dilaksanakan secara bergilir tempat pelaksanaannya. Beberapa kali berlangsung di wilayah Indonesia, yakni di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan kini di Kalimantan Timur sebagai tuan rumah.

Yosi Pontian, Ketua Lembaga Kajian Budaya Kalimantan Barat, menambahkan, pertemuan sastrawan berskala internasional ini pernah dilaksanakan di Pontianak tahun 1995.

“Betul, Kalimantan Barat pernah menjadi tuan rumah event sastra internasional itu pada tahun 1995 lalu. Waktu itu, event sastra ini masih bernama Dialog Borneo,” jelas sastrawan dan budayawan Kalimantan Barat waktu ditanya itu.

Info dari panitia DBK XI, untuk DBK XII tahun 2013 nanti, direncanakan akan dipilih tempat di Pontianak, Kalimantan Barat. “DBK XII bisa digelar di Pontianak, itu tergantung kesediaan pemerintah daerah. Pada prinsipnya, kami para satrawan siap memberikan dukungan,” tegas Yosi. Hal senada juga diungkapkan para satrawan yang tergabung dalam Dewan Kesenian Kalimantan Barat.

Untuk mewujudkan harapan itu, akan sangat baik ada salah satu perwakilan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat atau pejabat instansi terkait juga menghadiri pertemuaan sastrawan tiga negara di Samarinda. “Kamu yakin, pemerintah daerah ini punya komitmen memajukan sastra di daerah Kalimantan Barat,” tegas Mizar Bazarvio.

Mizar Bazarvio menjelaskan, dalam acara tersebut akan diluncurkan tiga buku sastra yang diterbitkan panitia, yakni buku Kalimantan Timur dalam Sastra Indonesia, Kalimantan dalam Prosa Indonesia dan Kalimantan dalam Puisi Indonesia.

“Ketiga buku sastra ini dieditori sastrawan Kalimantan Timur, Korrie Layun Rampan,” jelas Mizar Bazarvio yang juga Ketua Yayasan Sastra Indonesia (YASSIN) Kalimantan Barat ini. Dia memaparkan, dalam buku sastra itu ada beberapa sastrawan daerah ini ikut menghiasi dengan karya-karya sastranya.

Long Mizar sapaan akrabnya menjelaskan lagi, dalam DBK XI akan dibentang 16 makalah sastra dari Kalimantan, Indonesia. Juga dari sastrawan Malaysia Timur dan Brunei Darussalam. “Kami harapkan melalui even DBK ini dapat terbahas usaha menjayakan kehidupan sastra di pulau Boreneo-Kalimantan,” tegasnya. (rilis)

Sumber: http://www.borneotribune.com/citizen-jurnalism/sastrawan-kalbar-hadiri-dbk-di-samarinda.html
Selasa, 12 Juli 2011 09:57 Borneo Tribune, Sintang