Taman Wisata Bukit Kelam merupakan bukit batu yang terdapat di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Bukit batu itu diduga meteor yang jatuh ke bumi. KOMPAS/EMANUEL EDI SAPUTRA

Taman Wisata Bukit Kelam merupakan bukit batu yang terdapat di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Bukit batu itu diduga meteor yang jatuh ke bumi. KOMPAS/EMANUEL EDI SAPUTRA


KALIMANTAN Barat dianugerahi alam yang eksotis. Hampir di setiap kabupaten dan kota selalu ada destinasi wisata alam menarik, tidak terkecuali di Kabupaten Sintang yang memiliki Taman Wisata Bukit Kelam. Ini adalah bukit batu dengan ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut dengan kemiringan 15-40 derajat. Semua bagian bukit itu bongkahan batu.

Daya tarik Bukit Kelam tak hanya karena terbentuk batu besar, tetapi ada cerita menarik di balik bongkahan raksasa itu. Menurut masyarakat setempat, bukit batu itu memiliki legenda. Konon, ada seorang pemuda Dayak yang sakti bernama Bujang Besji ingin menutup Sungai Kapuas dan Sungai Melawi dengan batu yang kini menjadi Bukit Kelam.

Tujuannya, ingin menjadikan Sintang danau. Namun, rencana Bujang gagal karena digoda seorang bidadari cantik sehingga ia terperosok ke lubang dan tidak bisa mengangkat batu itu lagi. Akhirnya, batu itu dibiarkan begitu saja yang kini menjadi Bukit Kelam. Cerita itu digambarkan di dinding di Taman Wisata Bukit Kelam.

Namun, ada pula yang menduga bongkahan batu raksasa itu meteor yang jatuh ke bumi di masa silam. Hal itu mengundang daya tarik sejumlah peneliti, misalnya dari Perancis.

Menurut penelitian, Bukit Kelam memang meteor yang jatuh di masa silam. Hal itu didasarkan pada unsur batu pembentuk Bukit Kelam yang sama dengan unsur bebatuan meteor. Dugaan itu kian menguat pula dengan banyaknya batu serupa yang dijumpai di sekeliling Bukit Kelam yang diperkirakan pecahan meteor.

Mendaki hingga ke puncak Bukit Kelam bagi orang yang belum terbiasa memerlukan waktu sekitar empat jam. Namun, masyarakat sekitar atau petugas di Taman Wisata Bukit Kelam tidak lebih dari dua jam. Pengelola sudah memasang tangga untuk membantu pengunjung ke puncak bukit.

Meski bukit itu terbentuk dari bongkahan batu, pepohonan masih bisa tumbuh di lereng. Dalam perjalanan menuju puncak Bukit Kelam, pengunjung disuguhi keindahan hutan yang asri. Pohon-pohon yang sudah hampir punah di Kalbar, misalnya pohon belian dan bengkirai, masih bisa dijumpai. Pengunjung pun masih dapat menemukan kantong semar dan anggrek hutan dan satwa antara lain tupai, monyet, dan walet.

Saat di puncak, pengunjung dapat menikmati kota Sintang dan hutan di sekitarnya dari ketinggian. Pada malam hari hingga pagi, suhu di puncak Bukit Kelam dapat di bawah 20 derajat celsius.

Sejak 2002

Handan Dani, petugas Taman Wisata Bukit Kelam, menuturkan, lokasi itu dibuka sebagai tempat wisata sejak 2002. Sejak itu, Taman Wisata Bukit Kelam sering dikunjungi wisatawan baik dari dalam negeri maupun luar negeri, seperti pelajar dari Belanda. Selain ingin mengenal budaya di Sintang, para pelajar itu juga meneliti alam di Bukit Kelam.

Pada hari libur kerja, Sabtu dan Minggu, jumlah pengunjung domestik sekitar 100 orang. Pada libur hari besar keagamaan, misalnya Idul Fitri dan Natal, mencapai ribuan orang. Tiket masuk hari biasa Rp 15.000 per orang, tetapi untuk hari libur Rp 20.000 per orang.

Untuk menuju Bukit Kelam dari Kota Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat, dapat menggunakan bus umum dan travel menuju kota Sintang terlebih dahulu dengan menempuh perjalanan 395 kilometer. Jika menggunakan pesawat terbang dari Kota Pontianak menuju kota Sintang hanya sekitar 30 menit. Dari kota Sintang menuju Bukit Kelam 20 kilometer. Jalan menuju kawasan wisata itu dapat dilintasi kendaraan umum.

Jika pengunjung ingin mendaki hingga ke puncak bukit dan bermalam, ada petugas yang bisa mengantar Anda sampai ke puncak. Pengunjung juga bisa membayar porter untuk membawakan perlengkapan.

Kawasan wisata itu termasuk hutan lindung. Jika ada warga yang membakar lahan atau menebang pohon di kawasan Taman Wisata Bukit Kelam, ada sanksi berupa hukum adat. ”Kami menjaga kawasan ini dengan kearifan lokal melalui penerapan hukum adat supaya masyarakat juga ikut menjaga kawasan wisata ini,” tuturnya.

Kendalikan masyarakat

Sebelum diberlakukan aturan seperti itu, masyarakat biasa berladang di lereng Bukit Kelam sehingga jika dibiarkan, kawasan hutan di lokasi wisata bisa habis. ”Cara itu efektif mengendalikan perilaku masyarakat. Makanya, kawasan wisata ini masih asri,” kata Handan.

Ada pula kegiatan penghijauan di lereng Bukit Kelam yang melibatkan siswa dari berbagai sekolah, misalnya saat ada siswa Pramuka di kawasan wisata itu. Pohon yang ditanam biasanya jenis pohon yang sudah hampir punah, seperti pohon bengkirai dan belian.

Di Sintang, ada Komunitas Pariwisata Sintang yang juga ikut terlibat dalam menjaga kelestarian kawasan wisata, termasuk Bukit Kelam. Komunitas itu juga ikut mempromosikan destinasi-destinasi di Kabupaten Sintang melalui media sosial.

”Bukit Kelam sangat menarik. Meski saya orang Kalbar yang sudah sering melihat Bukit Kelam, saya tetap sering berkunjung ke Bukit Kelam karena suasananya juga tenang. Saya sering ke puncaknya untuk bermalam,” ujar Deni (25), pengunjung Bukit Kelam.

Yuni (27), pengunjung lain, menuturkan, ia menyayangkan Bukit Kelam belum ditunjang infrastruktur memadai. ”Jalan dari Pontianak menuju Sintang banyak yang rusak,” ujarnya.

Menurut Emilia, Kepala Seksi Analisis Pasar dan Promosi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sintang, sektor pariwisata memang unggulan ketiga perekonomian daerahnya setelah pertanian dan perkebunan. (Emanuel Edi Saputra)

Sumber:
http://travel.kompas.com/read/2014/12/12/185600327/Bukit.Kelam.Legenda.dan.Meteor
Jumat, 12 Desember 2014
Editor : I Made Asdhiana