tasawuf di kalimantan
Tasawuf di Kalimantan: Berdasarkan naskah Abdul Malik bin Haji Abu Bakar Krui
Pengarang: Hermansyah, Erwin Mahrus, dan Rusdi Sulaiman Subjek: Agama Penerbit: STAIN Press Tahun: 2020 ISBN: 978-602-1202-22-7 Halaman: 131 halaman Pages Dimensi:
Deskripsi:

Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi yang kaya dengan warisan lama berupa naskah-naskah keagamaan. Warisan ini antara lain adalah peninggalan dari para penyebar agama dan ulama kesultanan dari kerajaan-kerajaan Islam yang pernah jaya di Pulau Borneo. Sejumlah ulama tersebut antara lain Syekh Ahmad Khatib Sambas dan Muhammad Basiuni Imran (Sambas), Ismail Mundu (Kubu dan Pontianak), Abdul Malik Krui dan Bilal Lumbuk (Jongkong), dan Iain-lain. Naskah-naskah hasil karya mereka kemudian tersimpan, baik di istana atau di kalangan keluarga kerajaan maupun di tengah anggota masyarakat. Sebagian naskah yang ada di masyarakat adalah milik per-seorangan.

Isu yang menjadi persoalan utama dalam pernaskahan Nusantara antara lain bahwa cukup banyak pemilik naskah yang menganggap bahwa naskah peninggalan leluhur mereka sebagai “pusaka milik keluarga” yang harus dirahasiakan dan tidak boleh dibuka oleh sembarang orang. Karena alasan kepemilikan pribadi inilah banyak naskah yang belum dan tidak terjangkau oleh peminat, pencinta, dan peneliti naskah. Akibat berikutnya, tidak dapat diperoleh angka pasti berapa jumlah naskah lama yang dimiliki oleh masyarakat Kalimantan Barat. Namun yang pasti, jumlahnya tidak sepuluh, tetapi seratus, dan bahkan lebih.

Di samping itu, naskah-naskah yang kebanyakan ditulis pada abad ke-18 dan 19 tersebut terbuat dari kertas yang secara fisik tidak bertahan lama. Sementara si pemilik hanya mengandalkan pengetahuan tradisional dalam upaya pemeliharaan, sehingga tidak jarang naskah yang dimilikinya bertumpuk dengan benda-benda lain. Akibatnya, sering terjadi naskah menjadi lapuk, robek, rusak, dan bahkan hilang.

Selain itu, umumnya naskah-naskah tersebut, baik hasil tulisan tangan maupun cetakan, hampir semuanya menggunakan huruf Jawi atau kadang-kadang disebut huruf Arab Melayu. Kemampuan untuk membaca karya-karya yang menggunakan huruf tersebut agak terbatas bagi sebagian generasi sekarang.

Fenomena ini agaknya juga terjadi di Kalimantan Barat. Ikhtiar mengumpulkan dan mengkaji naskah-naskah lama belum mendapat perhatian yang memadai. Padahal daerah ini pernah menjadi kawasan penyebaran Islam dan salah satu pusat studi Islam yang melahirkan banyak karya keagamaan.

Dengan demikian, berbagai upaya untuk melestarikan dan memanfaatkan naskah-naskah Nusantara, khususnya di Kalimantan Barat sangat mendesak dilakukan. Hal ini didasarkan pada tiga hal.

Pertama, banyaknya informasi penting berkaitan dengan seluk-beluk kepercayaan dan kehidupan yang terkandung dalam naskah-naskah tersebut. Naskah lama dapat memberikan kesaksian ihwal sosial, budaya, agama, dan politik secara langsung kepada kita melalui bahasa yang tertuang di dalamnya. Oleh karena itu, lahirnya naskah-naskah lama suatu daerah sangat berkaitan erat dengan latar belakang sosial yang sedang berlangsung, kecakapan baca-tulis, dan daya dukung masyarakatnya di masa lampau. Sejumlah penelitian yang menggunakan naskah, baik yang menjadikan naskah sebagai subjek studi maupun sebagai sumber data, telah menunjukkan kebenaran pernyataan itu. Sebagai contoh Azyumardi Azra dalam disertasi doktoralnya telah menemukan hubungan atau jaringan ulama di Nusantara dengan kawasan lain sebagian besar datanya didasarkan atas naskah lama.

Kedua, sudah semakin rapuhnya kondisi fisik naskah tersebut seiring dengan perjalanan waktu. Kondisi ini jika dibiarkan, akan mengakibatkan punahnya sebuah sumber penting yang merupakan kekayaan intelektual Indonesia.

Ketiga, upaya penelitian, khususnya melalui alih aksara, akan membantu generasi sekarang untuk dapat menyelami isi kandungan naskah yang ditinggalkan oleh generasi terdahulu. Dengan kata lain, dengan membuat transkripsi atas naskah-naskah tersebut akan membantu generasi sekarang untuk mengapresiasi khazanah masa lampau yang sebagiannya mengandung unsur-unsur yang relevan dimanfaatkan untuk kepentingan masa sekarang ataupun yang akan datang.

Oleh karena itu, upaya-upaya untuk memelihara dan melestarikan naskah tersebut harus segera dilakukan, antara lain dengan melakukan penelitian. Di antara naskah yang relatif banyak di Kalimantan Barat adalah bercorak Tasawuf. Salah satu naskah yang cukup penting adalah sebuah karya bercorak tasawuf yang ditulis oleh Abdul Malik bin Abu Bakar Krui, seorang penyebar agama Islam di daerah Jongkong, Embau di awal abad ke-20. Kajian dalam buku ini menjadi relevan di samping naskah ini jarang bahkan belum pernah dikaji oleh para generasi pewarisnya, juga adanya anggapan sejumlah peneliti di daerah hulu Kapuas bahwa corak Islam yang pertama masuk di daerah pedalaman Kalimantan Barat, khususnya, sangat bernuansa sufistik. Kajian dalam buku ini diharapkan dapat menggambarkan bagaimana proses Islamisasi yang terjadi dan corak keberislaman yang dianut. Kemudian mempublikasikan karya ini agar kandungan isinya dapat terus ditransmisikan kepada masyarakat dan diketahui oleh khalayak.

Fokus kajian utama buku ini adalah menganalisis Naskah al-Haqq al-Faqir al-Hajj Abdul Malik bin Abu Bakar Krui Penengahan Lahai. Secara khusus akan menguraikan corak tasawuf dalam naskah tersebut dalam konteks Islamisasi di pedalaman Kalimantan Barat. Ada dua pertanyaan besar yang akan diuraikan dalam buku ini: (1) Apa isi naskah Naskah al-Haqq al-Faqir al-Hajj Abdul Malik bin Abu Bakar Krui Penengahan Lahai? dan (2) bagaimana corak Tasawuf dalam Naskah al-Haqq al-Faqir al-Hajj Abdul Malik bin Abu Bakar Krui Penengahan Lahai?