No Image Available
Syekh Akhmad Khatib Sambas (1803-1875): Ulama besar & pendiri tarekat Qadiriyah- Naqsabandiyah
Pengarang: Erwin Mahrus, Rosadi Jamani, Edy Kusnan Hadi Subjek: Sejarah Penerbit: Untan Press Tahun: 2020 ISBN: 979-97516-1-6 Halaman: 151 Pages Dimensi:
Deskripsi:

Satu upaya yang patut diacungi jempol buat Pak Rosadi dan kawan-kawan, yang telah mewujudkan karya fenomenal mengungkap kehidupan seorang tokoh penting dalam peradaban Islam. Tentu hal ini tidak mudah, mengungkap seorang tokoh yang hidup pada masa ratusan tahun silam. Namun karena Syekh Khatib Sambas seorang ilmuwan dan ulama yang disegani dunia Islam, beliau banyak meninggalkan jejak dalam bentuk karya tulis, baik yang dulis sendiri maupun ditulis oleh orang lain.

Untuk para pembaca, berikut ini kami sajikan cuplikan dari buku karya Pak Rosadi dkk mengenai kisah masa muda Syekh Akhmad Khatib Sambas. Selamat Membaca!

Ahmad Khatib lahir di Kampung Dagang, Sambas, Kalimantan Barat pada bulan Safar 1217 H bertepatan dengan tahun 1803 M. Ayahnya bernama Abdul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin (MS. Hasan, manuskrip, tt)

Orang tua Ahmad Khatib adalah perantau yang berasal dari daerah Kampung Sange’ Sambas yang kemudian menetap di Kampung Dagang. Kemungkinan, orang tuanya pindah ke Kampung Dagang disebabkan di daerah ini banyak bermukim tokoh-tokoh ulama, dan karena dekat dengan istana sebagai pusat pemerintahan.
Tradisi merantau dan melakukan perjalanan ke berbagai tempat agaknya telah menjadi kebiasaan umum masyarakat Sambas. Lebih jauh, orang Sambas biasanya mengirim anak-anak dan pemuda mereka ke berbagai daerah untuk mempelajari ilmu keagamaan. Setelah menyelesaikan pelajaran mereka kembali ke daerah kelahiran mereka atau mengadakan perjalanan ke tempat-tempat lain di dunia Islam. Sehingga, konon sebutan Kampung Dagang menunjuk kepada suatu istilah “tempat bermukimnya para perantau”.3

Semasa kecil kira-kira berumur 4-5 tahun, Ahmad Khatib tinggal dan diasuh oleh pamannya. la adalah seorang anak yang rajin dan memiliki perhatian besar terhadap ilmu agama. Sebagai seorang anak yang baik, ia begitu taat dan patuh kepada orang tuanya. Khatib Sambas muda juga memperoleh pendidikan dasar untuk pertama kali dari orang tuanya dalam suasana tradisi Islam seperti membaca al-Quran dan pelajaran salat serta pengetahuan dasar-dasar keagamaan lainnya.

Selain kepada orang tuanya, Khatib Sambas juga belajar kepada pamannya. Namun sangat disayangkan, tidak ditemukan informasi siapa nama pamannya. Pamannya ini dikenal sangat ‘alim dan wara’. Mengenai kelebihan sang paman direkam dalam sebuah cerita rakyat4 yang cukup terkenal dalam historiografi lokal masyarakat Sambas.

“Pada malam-malam terakhir bulan Ramadhan, pamannya mengajak Khatib Sambas mengerjakan salat tahajjud. Saat berwudu’ di pinggir sungai, Khatib muda menyaksikan satu keajaiban, peci atau songkok pamannya yang diletakkan di ujung ranting pohon tiba-tiba melayang-layang di udara, padahal angin tidak bertiup. Lebih aneh lagi dalam pandangannya, pohon-pohon yang ada dipinggir sungai seolah-olah akan tumbang seperti mau sujud. Melihat pemandangan aneh ini, Khatib kecil memeluk erat tubuh pamannya. Sementara sang paman melihat keanehan ini mengucapkan tasbih. Pamannya kemudian menjelaskan peristiwa yang baru saja mereka alami berasal dari Allah. Itulah peristiwa yang terjadi pada malam laylat al-qadr, jika orang memanjatkan doa akan dikabulkan oleh Allah. Usai peristiwa itu berlalu, pamannya memanjatkan doa kepada Allah, memohon agar Khatib Sambas nantinya dapat menjadi seorang ulama besar.”

Sementara itu, kemajuan dan kemakmuran Kerajaan Sambas sebagai pusat perdagangan seperti yang telah diuraikan di muka, telah pula memainkan peranan penting dalam meningkatkan intensitas Islamisasi di Kerajaan ini. Dengan meningkatkan jaringan perdagangan para guru, muballigh, buku, maupun gagasan sampai ke wilayah Sambas. Persebaran ulama sangat tergantung pada kemudahan komunikasi. Para ulama sangat tergantung pada kemudahan komunikasi. Para ulama ini datang ke Sambas, di samping dorongan ketulusan agama, juga karena pandangan bahwa Kerajaan ini memiliki sarana untuk membantu mengembangkan semangat dan pengetahuan keislaman mereka. Momentum inilah tampaknya yang dimanfaatkan oleh tokoh ulama sekaliber Syekh ‘Abd. al-Jalil al-Fatani pada pertengahan abad ke-18 yang pada gilirannya memberikan sumbangan besar dalam membentuk karakter keagamaan masyarakat Sambas.

Upaya mengadministrasikan hukum Islam yang telah dimulai dengan diberlakukannya Hukum Kanun Sambas, yang bukan hanya menonjolkan unsur adat melainkan juga hukum syariat. Kebijakan ini juga tidak bisa dipandang sepele. Dari beberapa unsur syariat yang diperkenalkan terlihat bahwa perhatian ulama dan sultan Sambas terhadap hukum Islam sudah cukup besar. Upaya-upaya ini semakin nyata dengan diangkatnya H. Nuruddin Mustafa sebagai Imam Masjid Jami’ Kerajaan Sambas oleh Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin. Jabatan keagamaan seperti ini dan para pemegang Jabatan tersebut dimasukkan ke dalam lingkungan keluarga bangsawan. Terciptanya jabatan-jabatan keagamaan telah memperkuat akar keagamaan Islam di Kerajaan ini. Mempertimbangkan uraian di atas, proses awal perkembangan Islam di Kerajaan Sambas terutama ditunjang oleh perdagangan dan birokrasi.

Semakin kuatnya pengaruh Islam di Kerajaan Sambas, maka semakin kuat pula dorongan untuk meningkatkan pemahaman keagamaan. Motivasi ini antara lain diwujudkan dengan upaya belajar kepada ulama-ulama Kerajaan. Karena itu, Ahmad Khatib Sambas mendapatkan pendidikan awal di wilayahnya sendiri. Bahkan dapat diduga ia juga belajar kepada Imam masjid Jami’ H. Nuruddin Mustafa. Dan puncak dari upaya meningkatkan pemahaman keagamaan ini adalah ditempuh dengan melakukan perjalanan ke pusat-pusat kemajuan dan keilmuan dunia Islam.

Berangkat dari motivasi keagamaan inilah dan keinginan untuk mengikuti jejak ke-‘aliman dan kebesaran ulama yang dahulunya pernah jaya, seperti Abdal-Jalil al-Fatani dan ulama-ulama besar lainnya yang ada di Kerajaan Sambas, tidak ada jalan lain bagi ayahnya kecuali dengan menyekolahkan Khatib Sambas ke Timur Tengah, khususnya Mekah. Ambisi keilmuan Khatib Sambas tampaknya telah lama ia pendam dan baru terwujud ketika orang tuanya berniat mengirimkannya ke tanah suci.

Memasuki usia remaja, sekitar tahun 1820, Khatib Sambas berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji, belajar dan kemudian bernukim di sana. Setelah dewasa ia menikah dengan seorang wanita Arab keturunan Melayu. Dari perkawinan ini, ia memperoleh dua orang putera dan satu orang puteri: Yahya, Siti Khadijah dan Abdul Ghaffar (mengambil nama kakeknya) (Aspia Mahyus, manuskrip).

Yahya menetap di Mekah dan menikah di sana. Dari pernikahannya ini lahirlah Ahmad, Muhamad dan Asiah. Dari perkawinan Siti Khadijah diperoleh seorang puteri bernama Siti Sarah.

Sedangkan Abdul Ghaffar yang juga menikah di Mekah tidak memperoleh keturunan, lalu ia menikah lagi di Singapura. Dari pernikahannya yang kedua inilah Abdul Ghaffar memperoleh apa yang dicita-citakan. la dikaruniai dua orang putera dan satu orang puteri: Abdullah Munzir, Salim dan Khairiah.