sejarah kongsi lan fong
Sejarah Kongsi Lan-Fong Mandor: Kapthai Demang dari Mandor
Pengarang: Dr. JJ. M. De Groot dan J.W. Young; Penerjemah, Pastor Yeri, OFMCap Subjek: Sejarah Penerbit: Pohon Cahaya Tahun: 2020 ISBN: 978-602-0833-42-2 Halaman: 76 Pages Dimensi:
Deskripsi:

Etnis Tionghoa merupakan penduduk ketiga terbesar di Bumi Borneo Barat ini, setelah Melayu dan Dayak. Tidak banyak masyarakat Kalbar, khususnya etnis Tionghoa sendiri, kapan dan bagaimana asal-usul nenek moyangnya hingga sampai di Bumi Borneo Barat ini. Untuk itu, Pastor Yeri, OFMCap mencoba untuk menggali tentang asal-usul keberadaan etnis Tionghoa di Kalimantan Barat berdasarkan naskah Dr. JJ, M. De Groot dan J.W. Young. Sebelum membaca buku hasil terjemahan tersebut, berikut ini kami sajikan kata pengantar dari penerjemah, Pastor Yeri, OFMCap.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa, sebelum abad ini hasil terbaik dari kebijakan kolonial tercapai, yaitu penetapan kekuasaan Belanda atas sekitar duapuluhan kerajaan Melayu Bagian Barat Borneo hampir tanpa pertumpahan darah, satu bagian besar wilayah ini sudah bertahun-tahun dibanjiri oleh orang-orang Cina. Demikian juga diketahui, bahwa para imigran yang rajin ini menempati tempat yang baru, dan mendirikan beberapa republik, terutama di daerah kerajaan Sambas, Mampawa, Landak dan Pontianak, atau dengan kata lain yang disebut distrik-distrik Cina di bagian utara-barat Residensi. Dari republik-republik atau kongsi-kongsi hanya yang dari Lanfong di daerah Mandor dapat bertahan sesudah perang-perang berdarah 1854, diakhiri dengan pemerintahan yang berdaulat orang-orang Cina-Borneo.

Seperti diketahui, Kongsi itu, di tahun yang baru lewat juga dibubarkan, tahun-tahun 1880-1883 masih dalam satu kehidupan penuh, ketika penulis ini sebagai juru bahasa untuk bahasa Cina sedang bertugas di Bagian Barat Borneo. Berhubung dengan tugas-nya, segala-galanya apa yang sulit antara Pemerintah dan kongsi, diwakili oleh residen, dan pemerintahan kongsi, lewat tangan dia; dia tinggal beberapa kali di Mandor, dan mulai bersahabat dengan kebanyakan kepala-kepala dari ‘landschap’. Oleh karena itu mudah timbul keinginan untuk mengadakan penelitian-penelitian mengenai pendirian dan sejarah tertua dari kongsi, dan sedapat mungkin dikumpulkan semuanya tentang apa yang mereka sendiri bukukan berhubung dengan itu.

Sungguh sangat disayangkan jika kurang mengetahui tentang permulaan, sejarah dan organisasi kongsi-kongsi Borneo dari sumber-sumber Cina sendiri. Pasti dibuat catatan-catatan harian dan buku-buku tahunan di segala republik itu – mengingat kesukaan terkenal orang-orang Cina untuk sejarah dan sastra; tetapi mereka hampir pasti hilang di waktu pembakaran, perang dan kematian, yang menyertai penghapusan pemerintahan berdaulat mereka ta-hun 1853-1854; mungkin mereka juga pernah disimpan utuh atau untuk sebagian begitu lama tidak tersentuh di salah satu sudut lemari Gubernemen, sampai bubuk, yang di daerah-daerah tropis begitu cepat dapat mengakhiri kertas Cina, dan menghancurkannya menjadi debu. Saya mencoba melindungi buku-buku tahunan resmi dari kongsi Lanfong terhadap satu kehancuran ini. Mengetahui pembubaran republik ini, yang direncanakan, dan untuk mana hanya menunggu kematian kapthai Liu A-sin yang sangat tua, dan menya-dari bahwa keterikatan Cina mendalam akan pemerintahan republik berdaulat pasti tidak akan berlangsung tanpa pertempuran dan perlawanan, saya kumpulkan tembusan-tembusan dari dokumen-dokumen itu, yang mana persahabatan dengan Liu A-sin yang sudah beruban sangat membantu.

Kebanyakan tembusan-tembusan itu dibuat oleh Yep Siong-yun 1, anak mertua dari Liu A-sin, orang yang sama, menurut berita-berita yang terkadang-kadang diterima, sesudah pembubaran kongsi, dia banyak berjasa menghindari orang-orang sebangsa memberontak, dan karena itu menghindari satu pertumpahan da-rah. Mereka kaya akan berita-berita mengenai pendirian kongsi, dan sejarah selanjutnya serta susunan pemerintahnya waktu per¬mulaan. Diluar tulisan ini, mereka juga beri beberapa penjelasan penting tentang sukku-suku Cina, yang mendiami Borneo sebelum penetapan kekuasaan Belanda; mereka memberi satu keterangan jelas akan hubungan kongsi terhadap orang-orang Dayak dan raja-raja Landak, Mampawa dan Pontianak; dan mereka pada akhirnya lebih berharga lagi karena dari kongsi-kongsi lain, sejauh diketahui, tidak tinggal salah satu autobiografi. Kita mungkin tidak pernah memperoleh satu tulisan bersejarah lebih berharga dari tangan-tangan masyarakat Borneo sendiri; – sangat jelas untuk kepentingan sejarah, document ini disimpan untuk selamanya demi sejarah kolonial Belanda.

Terjemahan dalam bahasa Belanda2, dalam halaman-hala-man berikut diberi kepada pembaca, akan karena itu diikuti oleh satu kopi seksama dari yang aslinya. Dengan itu, sejauh memungkin terbuka lebar pintu untuk kritik, dapat kesalahan-kesalahan yang mungkin ada selalu dikontrol dan diperbaiki, dan penulis-penulis sejarah Lanfong sendiri bertanggungjawab penuh. Pekerjaan demi-kian ini mestinya memiliki terutama dengan gaya sederhana dan lugas satu cap keandalan. Simplex veri sigillum? Tanpa kiasan, tanpa satu tanda berlebihan atau mencari dampak, dan walaupun demi-kian mulus, yang malahan indah, cara itu memuji bakat penulis-penulis; akan tetapi hilang, seperti dapat dimengerti, sifat ini untuk sebagian besar dalam terjemahan bahasa Belanda, dan ini lebih lagi karena kami, pada dasarnya adanya teks-teks bahasa Cina, kami anggap diri berhak menterjemahkan lebih bebas. Tetapi ini tidak menghindarkan bahwa tuntutan-tuntutan yang tak bisa dihilangkan untuk satu penulisan sejarah yang tepat, yang menguasai segala pekerjaan terjemahan terutama yang bersifat historis, memaksa kami menterjemahkan kalimat demi kalimat yang persis dan dengan demikian mengakibatkan bahwa satu kekakuan masuk dalam pekerjaan kami, berhubung dengan mana dimohon pemakluman dari pembaca. Tetapi hal tersebut dapat terhibur, bahwa yang khusus bersifat Cina dari dokumen asli sedikit dipertahankan. Dengan agak terpaksa, demi satu urutan kronologis lebih teratur, Kami ubah disana-sini urutan dokumen-dokumen asli.

Karena masyarakat Mandor sebagian terbesar terdiri dari orang-orang Cina Haka, ditulis nama-nama kedudukan-kedudukan di ‘landschap’, juga pada peta yang dilampirkan, sejauh mungkin, kalau kita tidak tahu satu nama Melayu, dalam bahasa Cina-Haka, seperti dipakai di distrik Kia-ying dari departemen dengan nama sama di propinsi Kwangtung. Nama-nama orang ditulis menurut bahasa suku-bangsa pemilik datang, nama tempat-tempat di Cina, di seluruh dokumen, menurut ucapan dalam Cina-Mandarin, yaitu bahasa propinsi-propinsi utara yang di Cina merupakan bahasa resmi dan juga pada umumnya ditemukan di peta-peta Eropah.

Dokumen-dokumen Cina dimulai dengan satu daftar kronologis kepala-kepala kongsi, dengan satu gambaran penuh seperti cara Cina yang benar, setiap tahun dari republik Lanfong. Bagian ini nampak kami kurang penting untuk dicetak ulang dalam bentuk asli. Hanya satu kutipan ikut dibawah ini, semacam satu ihtisar yang mudah.

I. Thaiko Lo Fong-phak; memerintah dari 1777 sampai meninggal di tahun 1795.
II. Thaiko Kong Meeuw-pak, dari 1795 sampai keberangkatan ke Cina, tahun 1799.
III. Thaiko Khie’t Si-pak, dari 1799 sampai meninggal di tahun 1803.
IV. Thaiko Kong Meeuw-pak untuk kedua kalinya, dari 1803 sampai meninggal 1811.
V. Thaiko Sung Tshap-pak, dari 1811 sampai meninggal 1823.
VI. Kapthai Liu Thoi-ni, dari 1823 sampai meninggal 1837.
VIII. Kapthai Ku Liuk, dari 1837 sampai 1842, waktu di minta berhenti dan berangkat ke Cina.
IX. Kapthai Tshia Akwi-fong, dari 1842 sampai meninggal di tahun berikut.
X. Kapthai Yep Thin-fui, dari 1843 sampai 1845.
XI. Kapthai Liu Kon-syien, dari 1845 sampai 1848.
XII. Kapthai Liu A-sin, dari 1848 sampai 1876, dia minta berhenti.
XIII. Kapthai Liu Liong-kwon, dari 1876 sampai meninggal 1880.
XIV. Kapthai Liu A-sin, untuk kedua kalinya, dari 1880 sampai meninggal September 1884.