Punahnya Agama Kaharingan di Kalimantan Barat
Punahnya Agama Kaharingan di Kalimantan Barat
Pengarang: Aju Subjek: Agama Penerbit: Samudra Mas Tahun: 2020 ISBN: 978-979-3794-83-9 Halaman: 128 Pages Dimensi:
Deskripsi:

Agama Kaharingan di Kalimantan Barat, punah atas intervensi pemerintah pasca operasi penumpasan Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak/ Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (PGRS/PARAKU) di sepanjangperbatasan dengan Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia, 1966 – 1974. PGRS/ PARAKU ditumpas secara militer, karena tidak mau meletakkan senjata, pasca Republik Indonesia – Federasi Malaysia, rujuk pada 11 Agustus 1966.

Agama Kaharingan sekarang tumbuh di kalangan Suku Dayak Ngaju dan Uud Danum di Provinsi Kalimantan Tengah, dengan populasi 330 ribu jiwa dari 2,2 juta penduduk keseluruhan tahun 2013. Agama Kaharingan, agama asli Suku Dayak, pernah tumbuh di kalangan Suku Dayak Uud Danum di Kecamatan Serawai dan Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang, serta di Kecamatan Menukung dan Kecamatan Ellahilir, Kabupaten Melawi, Provinsi Kalimantan Barat.

Agama Kaharingan di Kalimantan Barat, punah atas intervensi pemerintah pasca operasi penumpasan Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak/ Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (PGRS/PARAKU) di sepanjangperbatasan dengan Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia, 1966 – 1974. PGRS/ PARAKU ditumpas secara militer, karena tidak mau meletakkan senjata, pasca Republik Indonesia – Federasi Malaysia, rujuk pada 11 Agustus 1966.

Keyakinan bersumber kepadi tradisi suku, dinilai pemerintah bukan agama ketika itu. Pemeluk Agama Kaharingan, diminta memeluksalah satu agama yang diakui Pemerintah, yakni Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha. Semenjak itulah, kalangan Suku Dayak Uud Danum di empat kecamatan dimaksud, memeluk Agama Katolik, untuk menghindari cap terlibat PGRS/PARAKU berhaluan komunis.

Katolikisasi di kalangan Suku Dayak Uud Danum, ditandai dengan kedatangan 3.000 (tiga ribu) guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka datang atas permintaan Gubernur Kalimantan Barat, Brigjen TNI Kadarusno kepada Gubernur NTT, El Tari.1 Proses kedatangan guru PNS dari NTT, terealisasi periode 1978 – 1982, setelah Gubernur Kalimantan Barat dijabat Mayjen TNI Soedj’iman.

Dikatakan kedatangan guru PNS dari Provinsi NTT sebagai katolikisasi dalam arti positif, karena mereka diinstruksikan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan Kodam XII/Tanjungpura, untuk mewajibkan kalangan Suku Dayak, memeluk agama sesuai yang mereka anut. Nyatanya pula, sebagian besar guru PNS dari Provinsi NTT, memang beragama Katolik. Ini faktor penyebab Suku Dayak Uud Danum di Kecamatan Serawai dan Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang, serta di Kecamatan Menukung dan Kecamatan Ellahilir, Kabupaten Melawi, mayoritas memeluk Agama Katolik.

Bukti peninggalan Agama Kaharingan sampai sekarang masih ada di sekitar pemukiman Suku Dayak Uud Danum di Kalimantan Barat. Bisa dilihat kehadiran rumah kecil yang disebut sandung, tempat menyimpan tulang-belulang kaum keluarga yang sudah meninggal dunia.

Sampai sekarang warga Suku Dayak Uud Danum, masih menganggap Kaharingan bagian dari tradisi dan budaya, kendati pun mereka sudah memeluk Agama Katolik. Warga Uud Danum, selalu membakar jenazah kaum keluarga yang sudah meninggal dunia untuk selanjutnya tulang dan abunya disimpan di dalam pondok kecil yang disebut sandung atau kodiring.

Bagi yang kurang mampu dari aspek ekonomi, kaum keluarga yang meninggal dunia, biasa dimakamkan. Tapi sudah ada kesepakatan warga untuk digelar pesta tiwah atau darok, untuk mengangkat kembali tulang-belulang dari dalam kubur, untuk selanjutnya disimpan ke dalam sandung. Ritual pengangkatan dan atau pembakaran jenazah inilah yang disebut tiwah (Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah) atau darok (Suku Dayak Uud Danum di Kalimantan Barat).

Sebagai agama leluhur, ritualisasi Kaharingan akrab dengan alam sekitar. Kawasan hutan belantara dan pegunungan, dianggap sebagai tempat bersemayam kaum leluhur. Karena itulah, kawasan Taman Nasional Bukit Raya Bukit Baka di pehuluan Sungai Serawai, Kabupaten Sintang, dianggap tempat beristirahat kaum leluhur. Kawasan Taman Nasional Bukit Raya Bukit Baka, dianggap kalangan Suku Dayak Uud Danum sebagai situs pemujaan. Di puncak Bukit Raya, sampai sekarang masih tersisa situs pemujaan dan dijadikan tempat pertapaan Tjilik Riwut, Pahlawan Nasional dan Gubernur Kalimantan Tengah, 1959 -1966.

Bukit Raya Tidak dikenal
Sebetulnya Taman Nasional Bukit Raya – Bukit Baka, tidak dikenal di dalam Bahasa Uud Danum. Kalangan Uud Danum menyebutnya Puruk Mokorajak dan Puruk Bahkah. Puruk artinya bukit. Mokorajak artinya besar, dalam Bahasa Dayak Uud Danum. Bahkah dalam Bahasa Dayak Limbai, stramras Dayak Uud Danum, artinya besar. Karena itu, dari asal usul penamaan, dua bukit yang berhadap-hadapan di jantung taman nasional, namanya sama, yakni besar. Mokorajak dalam Bahasa Dayak Uud Danum dan Bahkah dalam Bahasa Dayak Limbai.

Perlunya memahami asal-usul penamaan, karena begitu manusia lahir di bumi, properti yang diberikan oleh orangtuanya adalah ‘nama diri’ (antroponim), karena dengan nama ini mulailah terbangun suatu jaringan komunikasi antara orangtua dengan anaknya sepanjang masa.

Properti kedua yang melekat pada antroponim adalah ‘tempat lahir (toponim). Kedua nama, yaitu nama diri dan tempat lahir akan melekat terus pada setiap individu sampai meninggal dunia dan dipakai untuk identitas diri, baik dalam Kartu Tanda Penduduk, Surat Izin Mengemudi, Paspor dan semua bukti identitas diri lainnya, termasuk di batu nisannya. Orang mengatakan, kita dapat kehilangan apa saja, harta benda, dan Iain-lain, tetapi tidak nama diri dan tempat lahir.
Begitu manusia mendiami suatu wilayah di muka bumi, maka manusiapun memberi nama kepada semua unsur-unsur geografi, seperti nama untuk sungai, bukit, gunung, lembah, pulau, teluk, laut, selat dan sebagainya yang berada di wilayahnya atau yang terlihat dari wilayahnya.

Bahkan juga manusia memberi nama pada daerah yang ditempatinya, seperti nama pemukiman (seperti nama real estat), nama desa, nama kampung, nama hutan atau nama nagari, dan seterusnya sampai dengan nama-nama kota. Tujuan memberi nama pada unsur geografi adalah untuk identifikasi atau acuan dan sebagai sarana komunikasi antar sesama manusia.
Nama unsur geografi atau disingkat geografik (geographical names) disebut toponim. Secara harafiah berarti nama tempat (place names). Nama tempat tidak harus diartikan nama pemukiman (nama tempat tinggal), tetapi nama unsur geografi yang ada di suatu tempat (daerah), seperti sungai, bukit, gunung, pulau, tanjung, dan sebagainya.

Unsur-unsur ini dikenal secara luas sebagai unsur topografi (the physi¬cal features on an area of land, such as rivers, mountains, island, seas, etc dalam Oxford Advances Learner’s Dictionary, 2000). Manusia yang bermukim pertama kali di suatu wilayah tentunya memberi nama pada tempat unsur-unsur geografik di lingkungannya. Nama berdasarkan yang dilihatnya, dan dijamin betul sebutannya untuk selanjutnya terekam di dalam ranah psikologis komunitas masyaraikat lokal. Penulisan dan penyebutan di dalam dokumen resmi, mesti pula ada jaminan tetap mengacu kepada sebutan yang benar oleh masyarakat lokal.

Berkaitan dengan itulah buku: Punahnya Agama Karingan di Kalimantan Barat, disusun, serta kemudian dapat dijadikan salah satu referensi rekonstruksi terhadap aspek toponimi dan kajian linguistikTaman Nasional Bukit Raya – Bukit Baka menjadi Taman Nasional Puruk Mokorajak-Puruk Bahkah. Taman Nasional Bukit Raya-Bukit Baka ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan, Nomor281/Kpts-ll/1992, tanggal 26 Februari 1992, seluas 181.090 hektar.

Bukit Raya dan Bukit Baka, memang lokasinya berdekatan yang hanya dibatasi oleh lembah. Di wilayah Provinsi Kalimantan Barat, Bukit Raya berada di wilayah Kecamatan Serawai, Kabupaten Sintang, dan Bukit Baka berada diantara wilayah Kecamatan Menukung dan Kecamatan Ella Hilir, Kabupaten Melawi. Di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah, wilayah Taman Nasional Bukit Raya – Bukit Baka mencakup Kabupaten Katingan dan Kabupaten Gunung Mas.

Penetapan kawasan Puruk Mokorajak dan Puruk Bahkah menjadi salah satu areal Taman Nasional Puruk Mokorajak – Puruk Bahkah oleh Kementerian Kehutanan, sinkron sekali dengan tradisi dan budaya masyarakat lokal yang menjadikanya sebagai lokasi situs pemujaan. Tjilik Riwut (seorang Dayak Ngaju), gubernur pertama Kalimantan Tengah dan Pahlawan Nasional, pernah berbulan-bulan melakukan pertapaan di puncak Puruk Mokarajak pada masa peralihan dari penjajahan Belanda kepada Jepang, dalam rangka melakukan komunikasi batin dengan Ranying Hatalla.

Rekonstruksi aspek toponimi dan kajian linguistik sesuai penyebutan Dayak Uud Danum dari Taman Nasional Bukit Raya – Bukit Baka menjadi Taman Nasional Puruk Mokorajak, amat sangat dimungkinkan, asalkan mekanisme pengusulan perubahannya tetap sesuai ketentuan administrasi pemerintah yang berlaku. Tahun 1996, misalnya, Kementerian Kehutanan mengubah nama Taman Nasional Bentuang Karimun menjadi Taman Nasional Betung Kerihun di perbatasan Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Perubahan didasarkan pendekatan toponimi yang diperkuat kajian linguistik Suku DayakTamambaloh, Kabupaten Kapuas Hulu. Betung dan Kerihun adalah nama dua buah bukit yang lokasinya berdekatan di pehuluan Sungai Kapuas, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat.

Berkaitan dengan aspek toponimi dalam kajian linguistik. Nama unsur geografi, atau disingkat “nama geografik” (geographical names) disebut “toponim”. Secara harafiah berarti “nama tempat” (place names). Nama tempat tidak harus diartikan nama pemukiman (nama tempat tinggal), tetapi nama unsur geografi yang ada di suatu tempat (daerah), seperti sungai, bukit, gunung, pulau, tanjung, dan sebagainya. Unsur-unsur ini dikenal secara luas sebagai unsur “topografi”.
Sejarah Toponimi dimulai bersamaan dengan dikenalnya peta (sehingga berkaitan dengan Kartografi) dalam peradaban manusia yang dimulai pada zaman Mesirkuno. Untukmemberikan keterangan (nama) pada unsuryang digambarkan pada peta diperlukan suatu usaha untuk ‘merekam’ dari bahasa verbal (lisan) ke dalam bentuktulisan atau simbol. Sejarah mencatat nama-nama Comtey de Volney (1820), Alexander John Ellis (1848), Sir John Herschel (1849) dan Theodore W. Erersky (1913) yang terus berusaha untuk membakukan proses penamaan unsur geografis pada lembar peta melalui berbagai metode. Pada akhirnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membentuk United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN) di bawah struktur Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau The Economic and Social Council (ECOSOC) of the United Nations (UN).

Tiap nama unsur geografi di Indonesia terdiri atas dua bagian yaitu nama generik dan nama spesifik. Yang dimaksud dengan nama generik adalah nama yang menggambarkan bentuk dari unsur geografis tersebut, misalnya sungai, gunung, kota dan unsur lainnya. Sedang nama spesifik merupakan nama diri (proper name) dari nama generik tersebut yang juga digunakan sebagai unit pembedaantar-unsur geografis. Nama spesifik yang sering digunakan untuk unsur geografis biasanya berasal dari kata sifat, misalnya ‘baru’, ‘jaya’, ‘indah’, ‘makmur’ atau kata benda yang bisa mencerminkan bentuk unsur tersebut, misalnya ‘batu’, ‘candi’ dan lain sebagainya.

Tata cara pembakuan pemberian nama pada unsur geografis ternyata tidak sesederhana perkiraan banyak orang. Tata cara untuk menstandarisasi dan mengatur penamaan suatu unsur geografis dikaji dan diatur dalam suatu cabang ilmu yang dikenal sebagai Toponimi. Ilmu ini berkaitan erat dengan kajian Linguistik, Antropologi, Geografi Sejarah dan Kebudayaan. (Jacub Rais, 2005)

Berkaitan dengan itu, mengacu kepada aspek toponimi dan kajian linguistik, disinkronkan dengan penyebutan yang benar dari yang direkomendasikan para narasumber di kalangan Dayak Uud Danum, maka sebutan Taman Nasional Bukit Raya – Bukit Baka, di dalam tulisan selanjutnya di dalam buku: “Punahnya Agama Kaharingan di Kalimantan Barat” ini disebut Taman Nasional Puruk Mokorajak, agar makna antropologis, sosiologis dan ranah psikologis lebih relevan dan melekat di kalangan masyarakat Dayak Uud Danum.

Heart of Borneo (HoB)
Kawasan Taman Nasional Puruk Mokorajak, bagian dari Program Pelestarian Terpadu Heart of Borneo merupakan sebuah perwujudan konsep konservasi dan pembangunan berkelanjutan ke dalam program manajemen kawasan di Pulau Borneo antara Republik Indonesia, Kerajaan Brunei Darussalam dan Federasi Malaysia.

Inisiatif HoB dilatarbelakangi kepedulian terhadap penurunan kualitas lingkungan terutama kualitas hutan di Pulau Borneo, yang ditunjukkan dengan makin rendahnya produktivitas hutan, hilangnya potensi keanekaragaman hayati, serta fragmentasi hutan dari satu kesatuan yang utuh dan saling terhubung. Pelestarian ekologi di Heart of Borneo sebagai wujud komitmen dunia internasional memperteguh program ekonomi hijau yang bersumber kepada kearifan lokal dan kebudayaan lokal, dalam rangka mengeliminir dampak negative pemanasan global atau global warning.

Total areal pelestarian HoB mencapai 23.309.278 hektar, dengan cakupan wilayah Indonesia (56,54% atau 12.624.380 hektar), Malaysia (41,87% atau 9.341.000 hektar meliputi Sabah 3.968.000 hektar dan Sarawak 5.373.000 hektar) dan Brunei Darussalam (1,59% atau 355.278 hektar). HoB wilayah Indonesia membentang seluas 12.624.380 hektar di areal Pegunungan Muller dan Pegunungan Schwaner, adalah gugus pegunungan berhadap-hadapan di Jantung Borneo atau Heart of Borneo, mencakup Provinsi Kalimantan Tengah 2.466.000 hektar (11,13%), Provinsi Kalimantan Timur 6.137.000 hektar (27,7%) dan Provinsi Kalimantan Barat 4.021.300 hektar (18,10%).

Pengunungan Muller merupakan jajaran pegunungan yang berada di batas Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Kalimantan Timur, membentang di perbatasan dengan Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia. Pegunungan Muller mempunyai bentangan seluas 860.000 hektar. Pegunungan Muller termasuk kawasan hutan hujan tropis yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Kawasan Pegunungan Muller penting untuk kelestarian dan kelangsungan sumber resapan air tiga sungai besar di Kalimantan, yakni Sungai Barito (Kalimantan Tengah), Sungai Kapuas (Kalimantan Barat) dan Sungai Mahakam (Kalimantan Timur). Pegunungan Schwaner adalah sebuah deretan pegunungan yang melintasi wilayah perbatasan antara Provinsi Kalimantan Barat – Provinsi Kalimantan Tengah.

Pegunungan Muller – Pegunungan Schwaner sekarang adalah sebutan yang diberikan untuk gugusan pegunungan di bagian jantung Kalimantan (Heart of Borneo) yang menghubungkan langsung 3 (tiga) kawasan konservasi, yaitu: Taman Nasional Betung Kerihun (Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat), Taman Nasional Puruk Mokorajak (Kabupaten Gunung Mas dan Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah, serta Kabupaten Melawi dan Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat) dan Cagar Alam Sapat Hawung (Kabupaten Murung Raya, Provnsi Kalimantan Tengah).

Dari lanskap yang terbentuk, kawasan Pegunungan Muller -Pegunungan Schwaner tidak dapat dipisahkan secara ekologis dengan kawasan Taman Nasional Kayaan Mentarang (Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Timur) dan Taman Nasional Danau Sentarum (Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat). Kedua pegunungan ini merupakan sebuah koridor ekologis yang menghubungkan berbagai jenis hidupan liar (flora fauna) beserta ekosistemnya di kelima kawasan konservasi, menjadikannya sebagai kawasan bernilai penting dan strategis dalam mendukung dan menyangga keberlangsungan kehidupan mahluk hidup termasuk manusia.

Pelestarian Heart of Borneo di wilayah Indonesia yang berbasis pada program ekonomi hijau, memberikan penghargaan dan penghormatan yang tinggi kepada kebudayaan lokal, menggali kearifan lokal dalam memelihara ekosistem. Itu berarti pula sebagai bentuk pengakuan terhadap keberadaan Agama Kaharingan yang bersumber dari budaya asli Suku Dayak. Penghargaan terhadap kebudayaan Suku Dayak, berarti pula akan membuat: Agama Kaharingan Menuju Agama Bumi di Kalimantan.

Kaharingan adalah religi suku atau kepercayaan tradisional Suku Dayak di Kalimantan Istilah kaharingan artinya tumbuh atau hidup, seperti dalam istilah danum kaharingan (air kehidupan), maksudnya agama suku atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Masa Esa (Ranying), yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Kalimantan. Kaharingan sudah mempunyai tempat ibadah yang dinamakan Balai Basarah atau Balai Kaharingan.

Kitab Suci Agama Kaharingan adalah Panaturan dan buku-buku agama lain, seperti Talatah Basarah (Kumpulan Doa), Tawar (petunjuk tatacara meminta pertolongan Tuhan dengan upacara menabur beras), dan sebagainya. Bagi Suku Dayak di sekitar Heart of Borneo, di dalam hidup kesehariannya selalu diliputi suasana ritualisasi yang bersumber dari Agama Kaharingan. Kaharingan merupakan agama suku satu-satunya di dunia yang masih mampu bertahan di tengah pembangunan dan globalisasi. ***

Biodata Penulis:
AjuAju, lahir di Olung Motue, Desa Baras Nabun (pehuluan Sungai Serawai), Kecamatan Serawai, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, 5 Maret 1966, adalah petani, wartawan dan penulis buku. Hasil perkawinan Aju dengan Herowati (Guru SMP Kristen Immanuel II, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya), dikaruniai dua orang anak: Dominico Savio (Pontianak, 6 Mei 2000) dan Virginia Regina Indriati Yulistiani (Pontianak, 29 Oktober 2002).