Palaunsoeka
Palaunsoeka: Tokoh Kalimantan Barat di balik integrasi Timor Timur
Pengarang: Aju Subjek: Sejarah Penerbit: Samudra Mas Tahun: 2020 ISBN: 978-979-379487-7 Halaman: 156 Pages Dimensi:
Deskripsi:

Satu lagi buku biografi tokoh politik Kalimantan Barat yang ditulis oleh Aju, seorang jurnalis yang produktif menulis buku biografi dan kekayaan budaya Kalimantan Barat. Kali ini Beliau menulis seorang tokoh penting Kalimantan Barat, Franciskus Conradus Palaunsoeka. Berikut ini kami sajikan cuplikan Biografi Palaunsoeka, semoga perjuangan dan kegigihan Palaunsoeka menginspirasi warga Kalbar, terutama generasi mudanya.

Jenjang karir Franciskus Conradus Palaunsoeka, terbilang penuh warna dan misterius. Dimulai sebagai pendiri Partai Persatuan Dayak (PPD) tahun 1946 di Putussibau, Kalimantan Barat, langsung berkiprah ke tingkat nasional menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) 1949-1988.

Kemudian salah satu pendiri Harian Kompas tahun 1965, Staf Ahli Badan Intelijen Negara (BIN), 1975 – 1982, menghantarkan Palaunsoeka sebagai salah satu tokoh sipil terlibat langsung dalam proses integrasi Timor Timurtahun 1975.

Franciskus Conradus Palaunsoeka, lahir di Malapi, Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, 12 Mei 1923, merupakan tokoh politik asal Kalimantan Barat yang dicatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) paling lama. Palaunsoeka punya abang kandung bernama, Ferdinandus Neidingsoeka, adik kandung: Maria Tutusari Soeka dan Ignatius Daniel Soeryamassoeka.

Palaunsoeka lahir dari pasangan Daun Ma’ Neiding dan Rengen Soeka. Panggilan sehari-harinya adalah Palaun, sedangkan Soeka merupakan marga dari ibunya yang merupakan Samagat (Bangsawan dalam Suku Dayak Taman).

Palaunsoeka menjadi anggota DPR dalam kurun waktu 37 tahun, jika dihitung sejak dipilih menjadi anggota DPR Republik Indonesia Serikat (RIS) periode 22 Desember 1949 – 6 September 1950, kemudian hasil Pemilihan Umum (Pemilu) 1955, 1971, 1977, 1982 dan 1987 hingga di-recall terhitung 26 Maret 1988.

F.C. Palaunsoeka yang terpilih kembali menjadi anggota DPR hasil Pemilu 1987, bersama Teuku Taib Ali (daerah pemihan Aceh), H. Marsoesi (Jawa Barat), Dudy Singadilaga (Jawa Barat), Kemas Fachrudin (Sumatera Selatan), Jusuf Merukh (Jawa Barat), Achmad Subagyo (Jawa Tengah), Suparman Adiwidjaya (Jawa Barat), di-recall oleh Ketua DPP PDI Soerjadi dan Sekretaris Jenderal Nicolaus Daryanto.

Ikhwal recall karena F.C. Palaunsoeka dengan kawan-kawan masuk Kelompok 17, menentang Surat Keputusan Nomor 059 Tahun 1986 DPP PDI, yang mengatur masa tugas anggota Fraksi PDI di DPR maksimal dua periode berturut-turut.

Soerjadi berang karena Kelompok 17 melakukan berbagai manuver politik sejak Nopember 1987 yang akhirnya dipecat dari keanggotaan partai di Rapat Pimpinan DPP PDI di Cisarua, Bogor, Provinsi Jawa Barat, 26 Maret 1988.

Karir politik F.C. Palaunsoeka memang penuh dinamika. Punya hubungan sangat baik dengan kalangan petinggi Tentara Nasional Indonesia (TNI), Presiden Soekarno (17 Agustus 1945 – 22 Juni 1966), dan President Soeharto pasca Gerakan 30 September (G30S) 1965 di Jakarta.

Selama delapan tahun Palaunsoeka bergelut di lingkungan dunia intelijen. Pasca pemberontakan gagal Partai Komunis Indonesia (PKI) tanggal 30 September 1965, F.C. Palaunsoeka masuk di dalam lingkaran orang dekat Presiden Soeharto, ditandai dengan merangkap menjadi Penasehat Ahli Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) periode 1975-1982, dengan spesialisasi analis seputar komunis di Kawasan Eropa.

“Kami baru diberitahu Bapak, bahwa beliau periode 1975 -1982 secara aktif di BAKIN, setelah tidak lagi menjadi anggota DPR pasca di-recall tahun 1988,” kata Maria Martina (60 tahun), putri sulung F.C. Palaunsoeka di Pontianak, Sabtu, 20 Nopember 2010.

“Pemahaman Bapak di seputar karakteristik komunis di Eropa sangat baik hingga ke hal-hal detil,” tambah Martina.

Presiden Soeharto menarik F.C. Palaunsoeka masuk di dalam lingkaran Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) yang sekarang berubah nama menjadi Badan Intelijen Negara (BIN).

Palaunsoeka masuk BIN, karena di era Presiden Soekarno, setelah bersama tokoh awam Katolik lainnya di Partai Katolik, seperti Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono, Frans Xaverius Seda, A. B. De Rozari, R. G Doeriat dan Benedictus Mang Reng Say, berani secara terbuka tidak suka Partai Komunis Indonesia (PKI).

Hasil Pemilu tahun 1955, Partai Katolik berhasil meraih 39 kursi dari 257 kursi yang diperebutkan. Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Katolik, I.J. Kasimo Hendrowahyono, bersama sejumlah tokoh Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) bahkan menolak tawaran Presiden Soekarno duduk di dalam kabinet, karena ada kader PKI menjadi anggota kabinet. Tahun 1956 F.C. Palaunsoeka anggota delegasi DPR mengunjungi 4 negara komunis di Eropa Timur, yaitu: Uni Soviet, Polandia, Chekoslowakia dan Rumania. Tahun 1965 sebagai anggota Delegasi Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) mengunjungi negara komunis Korea Utara dan Republik Rakyat China (RRC).

Tahun 1966 anggota delegasi DPR ke Korea Selatan, Jepang, Filipina, Hongkong dan Macao, dalam rangka memberikan penjelasan tentang penumpasan PKI tahun 1965.

Tutup Usia di Pontianak
Tanggal 10 Agustus 1993, F.C. Palaunsoeka menerima pemberitahuan dari Sekretariat Negara, bahwa tanggal 20 Agustus 1993, mesti berada di Jakarta, untuk menerima perintah tugas khusus dari Presiden Soeharto. Tapi Tuhan berkehendak lain. F.C. Palaunsoeka meninggal dunia akibat serangan stroke di kediamannya, Jalan A.R. Hakim 114, Pontianak Selatan, 12 Agustus 1993.

Perkawinan F.C. Palaunsoeka dengan Maria Untot Nyangoen (meninggal dunia di Pontianak tanggal 10 Juni 2005) dikaruniai 10 anak, yakni Maria Martina (lahir di Pontianak, 28 Juli 1950), Joseph Thomas (Pontianak, 8 Nopember 1951), Anna Victoria (Pontianak, 8 Juli 1953), Margaretha (Pontianak, 19 Maret 1958), Fransiska (Pontianak, 19 Maret 1958), Eugene Johanes (Pontianak, 25 Juli 1960), Theo Manalo (Jakarta, 1 April 1965), Benny Mulia (Jakarta, 28 Oktober 1966), Konrad Raja Sarai (Pontianak, 22 Nopember 1969 dan telah meninggal dunia), Frans Nyalaturi (Jakarta, 1 Agustus 1971).