kronik_mempawah(Small)
Kronik Mampawah (dan Pontianak)
Pengarang: J.T. Willer; alihbahasa oleh Pastor Yeri, OFMCap Subjek: Sejarah Penerbit: Pohon Cahaya Tahun: 2020 ISBN: Halaman: Dimensi:
Deskripsi:

Mempawah adalah salah satu nama kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat (sebelumnya bernama Kabupaten Pontianak). Sebuah artikel yang ditulis oleh J.T. Willer, mengungkap tentang perkembangan Kerajaan Mempawah dari masa kemasa. Artikel tersebut kemudian dialihbahasakan oleh Pastor Yeri, OFMCap, dan dijadikan sebuah buku dengan judul Kronik Mampawah (dan Pontianak), dan diterbitkan oleh Pohon Cahaya, Yogyakarta, 2015.

Buku ini menghadirkan kronik kerajaan Mempawah. Dari tahun ke tahun dapat diketahui apa yang terjadi dalam pemerintahan dan perpolitikan dalam kerajaan ini. Kerajaan Mempawah merupakan kelanjutan dari pemerintahan hero – raja orang-orang Dayak. Anak perempuan dari hero, Indrowatie, menikah dengan Sultan Sukadana, yang menjadi raja Mempawah ke-13, yang juga tidak mempunyai anak laki-laki. Indrowatie memberikan tahtanya kepada anak perempuannya, ratu Kesumba yang menikah dengan seorang bajak laut yang bernama Daeng Manambon. Daeng Manambon, kemudian, menjadi raja ke-14. la membawa orang-orang muslim lainnya tetapi juga dia tetap mengikat hubungan dengan orang-orang Dayak. Orang Dayak pun sangat menghormati kerajaan ini karena dipandang sebagai keturunan dari para hero.

Pada tahun 1731, datanglah seorang ahli agama dari Arab yang bernama Syarif Husin bin Al-Kadrie di Kerajaan Matan-Sukadana. la sangat dihormati dan disegani. Sebagai penghormatan dan penghargaan itu, ia menikah dengan Nyai Tua, ibu dari Sultan Matan. Dari perkawinan ini, lahirlah Abd’ul Rachman bin Husin Al-Kadrie. Karena kesalahan dalam mengambil suatu keputusan pengadilan, Syarif Husin diminta untuk meninggalkan kerajaan Matan dan ia pindah ke Mempawah bersama keluarganya. Kerajaan Mempawah pada saat itu diperintah oleh Adi Jaya, anak dari ratu Kesumba dan Daeng Manambon.

Ab’dul Rachman mengikuti jejak ayahnya sebagai ahli agama dan hukum tetapi juga bertumbuh sebagai seorang bajak laut. Jarahannya senantiasa dibawa ke Mempawah. Ia mendapat simpatik dari raja Mempawah, Adi Jaya. la menikah dengan adik kandung raja, Utin Candra Midi. Karena ketenarannya, ia diundang oleh Sultan di Banjarmasin dan menikah dengan puteri Sultan, ratu Sahari Banon. Mulai saat itu, ia digelari sebagai pangeran, Sultan Ab’dul Rachman Al-kadrie. la tetap melaksanakan pekerjaannya sebagai bajak laut. la merampas kapal Perancis dan Inggris.

Pada hari Kamis bulan Rajab 1185, ia mendarat di pulau kecil yang disebut Pontianak. Sebagai pemimpin, didirikan baginya sebuah rumah dari kayu. la membuat peraturan menurut tata aturan Melayu asli. Dia sebenarnya tidak menjadi raja mahakuasa karena kekuasaan juga ada pada para pendiri pertama kota Pontianak dan keturunannya serta masih menjadi wilayah Mempawah. Dalam usaha mengembangkan kerajaan baru ini, pangeran Ab’dul Rachman bekerjasama dengan VOC. Pemerintah VOC pun punya kepentingan atas kekayaan alam dan perdagangan. Demikian pun, ia melibatkan kongsi-kongsi Cina yang menguasai daerah pertambangan baik di Sambas maupun di Mempawah. la ingin menguasai Sambas, Mempawah, Sukadana dan yang lainnya.

Sultan Ab’dul Rachman pada akhirnya, dengan bantuan VOC, berhasil mengusir penguasa yang sah dari Mempawah dan mengangkat anaknya sendiri di tahta Mempawah. Raja Mempawah melarikan diri ke Karangan di hulu Mempawah. Sejak itu mulai satu permusuhan antara dinasti Mempawah dengan dinasti Al-kadrie. Perdamaian diadakan tetapi mereka tetap bermusuhan. Nama Mempawah hampir hilang. Sampai dengan tahun 2014 wilayah Mempawah disebut Kabupaten Pontianak. Namun, tahun 2015 nama diubah menjadi Kabupaten Mempawah.

Apa yang disampaikan dalam kata pengantar ini hanya sekedar gambaran singkat saja. Bila ingin mengetahui secara lengkap kronik Mempawah ini, para pembaca diminta untuk membaca buku ini supaya mempunyai gambaran yang komprehensif terkait dengan kerajaan Mempawah.

J.T. Wilier