kiprah-cornelis-di-dunia-internasional
Kiprah Cornelis di Dunia Internasional: Upaya mewujudkan Deklarasi Rio Branco
Pengarang: Rosadi Jamani, Gusti Hardiansyah, Adi Yani, Marius Marcellus Subjek: Sejarah Penerbit: Visi Mandiri Tahun: 2021 ISBN: 978-602-317-324-2 Halaman: 233 halaman Pages Dimensi:
Deskripsi:

Provinsi Kalbar dikenal dengan paru-paru dunia. Salah satu alasannya karena masih memiliki hutan yang luas. Walau masih memiliki kawasan hutan cukup luas, tapi menyimpan ancaman deforestasi dan degradasi sangat besar.

Provinsi Kalbar dikenal dengan paru-paru dunia. Salah satu alasannya karena masih memiliki hutan yang luas. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 259 Tahun 2000 luas hutan Kalbar 9.178.760 hektar (ha). Dari luasan tersebut yang diperuntukkan untuk fungsi kawasan lindung 3.952.625 ha atau 43,06% dan untuk fungsi kawasan budidaya seluas 5.226.135 ha atau 59,94%. Sedangkan luas lahan gambut berdasarkan Data BPS Tahun 2007 adalah sekitar 1,7 juta ha (8,49 % luas gambut di Indonesia) yang 70% nya berada pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas. Sisanya tersebar di DAS Sambas, DAS Pawan, DAS Mempawah dan DAS-DAS kecil lainnya.

Walau masih memiliki kawasan hutan cukup luas, tapi menyimpan ancaman deforestasi dan degradasi sangat besar. Di dalam dokumen SRAP REDD+ Kalimantan Barat rata-rata laju deforestrasi dan degradasi hutan tahun 2006-2011 adalah 116.172,77 ha per tahun. Sedangkan kebakaran hutan dan gambut dari tahun 2007-2010 mencapai angka rerata per tahun sebesar 896 ha. Sungguh ironis bila melihat data ini. Besarnya ancaman deforestasi dan degradasi hutan mengundang keprihatinan tidak hanya Gubernur Kalbar, Drs. Cornells, MH sendiri, melainkan para pemimpin ternama dunia. Salah satunya Gubernur California Amerika Serikat, Arnold Schwarzenegger. Bintang film Hollywood itu mengundang secara khusus Cornelis untuk menghadiri acara Governor’s Global Climate Summit 2 di Los Angeles California Amerika Serikat pada 30 September sampai 1 Oktober 2009. Undangan inilah yang menjadi awal keterlibatan Cornelis di dunia internasional dalam bidang lingkungan hidup.

Undangan bintang film Terminator itu direspons positif. Cornelis mengumpulkan pejabat yang berkaitan dengan lingkungan hidup untuk membicarakan undangan spesial itu. Komitmennya yang begitu kuat untuk menyelamatkan hutan Kalbar, menyatakan siap menghadiri undangan sang bintang. Orang nomor satu di tanah Borneo Barat itu menyertakan Kepala Dinas (Kadis) Kehutanan Kimha, Kadis Perkebunan Edward, Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Darmawan dan Kabid Dampak dan Penaatan Hukum BLKH Adi Yani. Bukan hanya itu, Cornelis juga menyertakan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) ketika itu masih dijadi M. Zeet Hamdy Assovie dan stafhya Zulkarnaen, Kepala Biro Hukum ketika itu Marcellus, dan Kepala Biro Keuangan Bachtiar, serta dosen Fakultas Kehutanan Untan Gusti Hardiansyah (sekarang Dekan Kehutanan). Mereka inilah duta lingkungan hidup Kalbar mengikuti pertemuan berkelas dunia di negeri Paman Sam.

Dalam pertemuan itu, Cornelis masih melakukan penj aj akan dan mempelaj ari serta memahami apa yang dinamakan dengan climate change. Dia merasa harus lebih banyak belajar mengenai isu global itu. Tak tanggung-tanggung ia belajar langsung dengan para tokoh dunia seperti Harison Ford, bintang film Hollywood yang sangat concern terhadap isu lingkungan hidup. Selain itu, ada Linda Adam, Sekretaris Perlindungan Lingkungan Hidup yang banyak memberikan pengalaman bagaimana menjaga dan melestarikan lingkungan di California.

Ada pembicara Dr. David Boyer, Director of the Prince Sadrudin Aga Khan Fund for the Enviroment yang membicarakan mengenai pendanaan untuk lingkungan hidup. Secara berurutan pembacara bertaraf dunia adalah Olav Kjorven, Assistent Secretary-General for the United Nation and Policy, Director at United Nation Development Programme, Janet McKinley, Chairman of Oxfam America, Governor Ted Kulongoski, Oregon Amerika Serikat, Governor Chris Gregoire, Washington Amerika Serikat, Lisa P. Jackson, Administrator of the United State Enviromental Protection Agency.

Kemudian perwakilan dari Uni Eropa oleh Minister President Christian Wolff, Lower Saxony Jerman. la banyak membentangkan perspektif negara-negara Eropa mengenai climate change. Tidak ketinggalan koresponden untuk the Newshour with Jim Lehrer, Judy Woodruff juga ikut memberikan kuliah mengenai apa yang telah diberitakan mengenai dampak dari perubahan iklim di dunia.

Giliran perwakilan dari Indonesia, diwakili Gubernur Jakarta Fauzi Bowo. la lebih banyak membicarakan masalah polusi udara yang sangat tinggi di daerah ibukota negara, Jakarta. Pembicara berikutnya Premier Gordon Cambell of British Colombia Kanada. Dilanjutkan Gubernur Babatunde Raji Fashola dari Lagos State Nigeria. Giliran Amy Fraenkel, Director and Regional Representative of United Nation Enviromental.

Berikutnya, Christian Guyonvarc’h, Wakil Presiden dari Regional Gover-ment of Britany of Network of Regional Goverments for Sustainable. Dilanjutkan Claus Juhl, CEO of Copenhagen Denmark. Wakil Walikota Seol Korea Selatan, Ki-chun Kim. Walikota Toronto Kanada dan Chair of the C40 Cities Climate, David Miller.

Di akhir pertemuan dilakukan dialog terbuka dengan pembicara utama, Arnold Schwarzenegger dan Perdana Menteri Inggris ketika itu, Tony Blair. Acara ini mendapat perhatian luas dari media internasional. Pesan yang ingin disampaikan bagaimana mengatasi climate change secara global. Semangat dari pertemuan internasional itu, “think global, act locally”. Berpikiran global dengan aksi lokal. Maksudnya, walaupun pertemuan itu banyak dihadiri gubernur dan walikota dari sejumlah negara di dunia, termasuk perwakilan Indonesia, tapi misinya untuk dunia. Walaupun hanya memimpin daerah atau negara bagian, tapi memiliki semangat besar menyelamatkan lingkungan untuk dunia. Think global, act locally, sekaligus sindiran untuk pemimpin seluruh dunia yang belum memiliki komitmen bersama menurunkan laju degradasi dan deforestasi hutan.

Sayang, Cornells sebagai gubernur tidak diminta untuk memberikan pre-sentasi di hadapan tokoh pemerhati lingkungan hidup dunia. Justru yang diberikan kesempatan untuk presentasi mewakili Indonesia, Gubernur OKI Jakarta, Dr. Fauzi Bowo. Sebenarnya kurang tepat, karena Jakarta tidak memiliki hutan, hanya memiliki hutan beton (gedung bertingkat). Jakarta justru banyak menghasilkan polusi udara akibat banyaknya pabrik dan kendaraan. Terlepas dari semua itu, kehadiran Cornelis di pentas internasional tersebut sebuah pengalaman berharga. Suami Frederika ini seperti mendapat pencerahan dan membangkitkan semangatnya untuk menjaga dan mempertahankan hutan yang dimiliki daerahnya. Bagaimanapun hutan yang dimiliki Bumi Khatulistiwa bukan semata-mata untuk rakyat Kalbar, melainkan sudah menjadi miliki dunia. Sebab, jutaan ton CO2 yang dihasilkan hutan memberikan nyawa kehidupan untuk umat di muka bumi.

Hutan bisa dikatakan benteng terakhir untuk mencegah semakin tingginya pemanasan global (global warming). Apa jadinya bila semua hutan ditebangi, lalu berubah menjadi lahan pemukiman, perkebunan, dan pertanian serta pertambangan. Bisa dipastikan global warming semakin menjadi-jadi. Akan muncul bencana alam yang bisa menimpa negara manapun. Cornelis menyadari itu semua. Namun, untuk memelihara hutan bukan pekerjaan gampang. Butuh kerja sama dunia internasional. Dunia internasional tidak bisa lagi hanya melakukan boikot, embargo, atau larangan impor terhadap negara yang tidak menjaga hutannya, melainkan harus ikut berkontribusi menjaga hutan secara bersama-sama. Dalam momen internasional tersebut, Cornelis beserta rombongannya berusaha menyakinkan dunia internasional, untuk menjaga dan memelihara hutan dibutuhkan keterlibatan semua pihak. Negara-negara kaya, tidak bisa lagi berpangku tangan atau tutup mata terhadap kerusakkan hutan. Tidak bisa lagi mendikte negara yang memiliki hutan dengan ancaman sanksi, melainkan ikut bersama-sama melakukan aksi menahan laju deforestasi dan degradasi.

Untuk menyadarkan negara kaya memang tidak mudah. Dibutuhkan lobi kuat dan usaha nyata, serta kerja sama antarprovinsi atau negara bagian yang masih memiliki hutan. Tanpa ada kerja sama dan upaya konsisten, semangat untuk menurunkan gas emisi rumah kaya, bisa berakhir sia-sia. Cornelis bukan tipe pemimpin daerah yang tidak memiliki komitmen. Ketika semangat untuk menjaga dan memelihara hutan sudah dikibarkan, sulit untuk surut ke belakang. Perjuangan harus jalan terus, tidak boleh berhenti di tengah jalan.