Aju | Rabu, 08 Januari 2014 – 17:34 WIB

Jumlah penduduk miskin terbanyak ada di Kabupaten Sambas dan Kabupaten Kapuas Hulu.

Tempo dulu, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, selalu diidentikan dengan kemakmuran rakyat karena kesuksesan petani jeruk manis siam yang bisa mengantarkan masyarakat petani naik haji tiap tahun.

Kini, kejayaan jeruk manis siam nyaris tidak terdengar lagi karena beberapa sentra produksi sudah beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit berskala besar.

Kota Tebas, ibu kota Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas yang sebelumnya dikenal sebagai sentra jeruk manis siam di Kabupaten Sambas, sudah dikelilingi tanaman kelapa sawit berskala besar yang mengedepankan peran investor.

Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat, Hazairin, mengakui masyarakat mulai realistis dalam menanam jenis komoditas. Bertanam kelapa sawit diyakini lebih menjanjikan dibanding jerum manis siam.

“Kalau panen raya, harga satuan jeruk manis siam selalu jatuh. Tandan buah segar kelapa sawit harganya relatif stabil. Penghasilan per hektare kebun kelapa sawit lebih menjanjikan dibandingkan komoditas jeruk,” kata Hazairin.

Menurut Hazairin, ada keluhan masyarakat di Kabupaten Sambas. Tanaman jeruk manis siam di wilayah pesisir kualitasnya tidak sebaik tiga dasawarsa sebelumnya. Di samping kualitas buah jeruk manis siam tidak semanis dulu lagi, tanaman jeruk mudah rusak dan selalu tergenang air pasang musiman.

Hazairin menuturkan, tidak menutup kemungkinan kawasan sentra jeruk manis siam di wilayah Kabupaten Sambas sekarang sudah terintrusi air laut. Faktanya, sekarang setiap kali hujan turun, sebagian besar wilayah di Kabupaten Sambas paling menderita dibandingkan wilayah otonom lainnya di Provinsi Kalimantan Barat. Ini karena wilayah itu menjadi langganan banjir ketinggian hingga 2 meter.

“Tanaman jeruk kalau lebih dari satu pekan terendam, pasti mati. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat segera memfasilitasi penelitian tentang kondisi lahan,” ujar Hazairin.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Barat, Badar mengakui, wilayah pesisir di Kabupaten Sambas dan sebagian besar wilayah Taman Nasional Danau Sentarum di Kabupaten Kapuas Hulu, dicatat memiliki penduduk miskin terbanyak di Provinsi Kalimantan Barat.

Kalbar Termiskin
Jumlah penduduk miskin di Kalimantan Barat adalah 394.170 orang, 8,74 persen dari total warga dan terbanyak di antara empat provinsi se-Kalimantan. Peringkat kedua ditempati Provinsi Kalimantan Timur 255.910 orang (6,38 persen), ketiga adalah Kalimantan Tengah 145.360 orang (6,23 persen). Di posisi keempat, menurut Badar, adalah Provinsi Kalimantan Selatan 183.270 orang (4,76 persen).

Badar menjelaskan, dari sektor garis kemiskinan, Provinsi Kalimantan Barat juga terendah di regional Kalimantan yaitu Rp 270.306 per kapita per bulan, disusul Provinsi Kalimantan Selatan Rp 300.329 per kapita per bulan, Kalteng Rp 307.698 per kapita per bulan, dan tertinggi Provinsi Kaltim Rp 427.902 per kapita per bulan.

Menurut Badar, penduduk miskin di Kalbar bisa saja dipicu dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi.

Di daerah pedesaan penduduk miskin naik menjadi 10,07 persen dari sebelumnya 9,51 persen, kemudian daerah perkotaan naik menjadi 5,68 persen dari sebelumnya 5,30 persen. Namun, Badar menambahkan, dari sisi jumlah penduduk miskin di pedesaan lebih banyak yaitu 316.400 orang, sementara di perkotaan 77.770 orang.

Bergeser
Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, mengatakan wilayah pesisir Kabupaten Sambas dan sebagian besar di wilayah Taman Nasional Danau Sentarum Kabupaten Kapuas Hulu, berpenduduk miskin terbesar di Provinsi Kalimantan Barat. Hal itu sekaligus menunjukkan peta kemiskinan sudah mulai bergeser dalam tiga dasawarsa terakhir.

Padahal, Cornelis mengakui wilayah pesisir di Kabupaten Sambas dan sebagian besar wilayah Taman Nasional Danau Sentarum di Kabupaten Kapuas Hulu, sebelumnya dikenal dengan penduduk berdaya beli relatif baik. Ketika itu, penduduk wilayah pedalaman dan perbatasan masih dinilai hidup miskin karena keterbatasan infrastruktur transportasi.

Menurut Cornelis, jumlah penduduk miskin terbanyak berada Kabupaten Sambas dan Kabupaten Kapuas Hulu karena semakin menyempitnya sumber mata pencaharian masyarakat, sementara saat bersamaan jumlah penduduk semakin bertambah.

Di Kabupaten Sambas, lahan pertanian semakin menyempit. Di Kabupaten Kapuas Hulu, hasil tangkapan ikan para petani nelayan tradisional di wilayah Taman Nasional Danau Sentrum turun drastis. Hal itu berdampak langsung terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat.

“Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat terus mendorong para kepala pemerintahan otonom untuk proaktif membimbing masyarakat melakukan alih usaha. Masyarakat mesti dibimbing bersikap cerdas dalam menekuni bidang usaha,” tutur Cornelis.

Sumber : Sinar Harapan
Didokumentasikan: 29 Januari 2014 | 16:49