Di sebuah desa yang sangat asri, yang jauh dari hiruk pikuk dan deruan mesin, tinggalah seorang gadis kecil dan seorang nenek yang sudah tua. Desa yang masih dikelilingi hutan lebat dan masih sangat alami. Anak kecil ini bernama Amanda, seorang gadis periang, pintar, rajin, baik hati dan pemberani. Dia selalu membantu neneknya bekerja dan dia sangat menyayangi neneknya. Karena nenek yang telah lanjut usia inilah yang dimilikinya. Sejak berumur 2 tahun, dia telah tinggal dengan neneknya.

Pada suatu hari, ketika dia pulang dari kebunnya, dia berlari-lari memanggil-manggil neneknya.

“Nek! Nenek! Nenek di mana?”

“Iya, nak. Ada apa? Kenapa kamu seperti dikejar-kejar setan?”

“Nek. Tadi Manda lihat monyet yang sangat besar.” (Matanya berbinar-binar)

“Dimana nak?” (nenek menatap cucunya dengan perasaan yang bingung).

“Di kebun belakang rumah kita.”

“Terus, apa yang terjadi? Dan kamu harus ingat nak, jangan main sampai melewati batas pagar ya. Bahaya, nanti kamu bisa tersesat. “ (Nenekya mulai kelihatan cemas).

“Iya, nek. Manda masih ingat pesan nenek, Manda hanya melihatnya dari balik pagar, monyet itu duduk diatas pohon besar ditepi hutan.”

“Lain kali Manda harus hati-hati, jangan bermain dikebun atau ditepi hutan sendirian.” (Nenek masih kelihatan cemas).

“Tapi….Manda kan sudah besar nek.”

“Iya, sayang. Nenek tahu Manda sudah besar dan mandiri. Tapi, Manda harus tetap berhati-hati.” (Nenek berusaha untuk bersikap bijaksana).

“Iya, nek. Manda akan berusaha untuk selalu berhati-hati dan ingat pesan nenek.”( Amanda berusaha meyakinkan neneknya).

‘Baiklah, nenek percaya sama kamu, nak.” (Nenek memeluk dan mencium Amanda dengan penuh kasih sayang).

Di pagi yang cerah, udara segar dan sejuk serta pepohonan yang rindang dan kembang bertebaran ditaman setiap rumah penduduk, sehingga menambah keindahan dan kharismatik pedesaan. Kicauan burung dipagi hari, begitu akrab terdengar disekitar pedesaan. Seperti biasa, Amanda bangun pagi-pagi sekali, karena dia tidak mau melewatkan keindahan dan segarnya udara di pagi hari. Dia anak yang rajin dan taat beribadah. Dia selalu membantu neneknya didapur dan membersihkan rumah.

“Nek, kalau pekerjaan sudah beres, Manda mau duduk di taman, sekalian membersihkan taman dan menyiram bunga dan tanaman lainnya.” (Manda begitu tak sabar ingin melihat suasana taman depan rumahnya).

“Iya sayang, tapi jangan main jauh-jauh ya…?” (Nenek menatap Amanda dengan penuh kasih sayang dan tersenyum).

“Iya nek, makasih ya nek..” (Amanda sangat girang sekali).

Ketika ditaman, Manda membersihkan taman, kemudian merapikan tanaman dengan gunting, serta membuang bagian tanaman yang sudah mati atau layu. Tiba-tiba ia melihat banyak kupu-kupu yang berkunjung ke taman bunganya. Dia pun menghentikan pekerjaannya dan duduk terpana menatap kupu-kupu yang berwarna-warni sedang menari-nari di atas bunganya.

“Subhanallah, indah sekali.” (Ia bergumam sendiri karena terpesona pada keindahan kupu-kupu tersebut).

Dia mulai membayangkan seolah-olah dia berada ditaman istana yang penuh dengan bunga-bunga yang indah. Selain itu, dia membayangkan jika ia adalah seorang putri yang cantik, anak dari seorang raja dan ratu yang memerintah dinegeri itu. Dalam lamunanya, ia melihat begitu banyak kupu-kupu yang mengelilinginya sambil menari-nari, dan anehnya kupu-kupu tersebut bisa mngerti dan berbicara bahasa manusia. Dia pun bercakap-cakap dengan kupu-kupu tersebut, yang selalu datang untuk bermain dengannya. Lamunannya buyar, ketika dia terkejut mendengar suara neneknya yang sedang memanggilnya.

“Manda sayang, hari sudah mulai siang, ayo kita sarapan dulu, nanti kita pergi mencari kayu bakar.”

“Iya, nek.” (Dia langsung masuk, dan mencuci tangannya untuk sarapan bersama neneknya).

Hari ini dia tidak kesekolah karena telah libur, dia baru saja selesai menerima raport dengan nilai yang sangat memuaskan dan dia menjadi juara umum di sekolahnya. Manda juga adalah seorang anak yang patuh dengan orang tua. Walaupun usianya baru 10 tahun, tapi dia bukan anak yang manja. Selain itu, dia juga rajin membantu neneknya bekerja dan tidak pernah menyusahkan neneknya. Dia membiayai sekolahnya sendiri dengan uang beasiswa yang selalu diterimanya. Penghasilan neneknya hanya untuk makan sehari-hari, karena itu dia selalu membantu neneknya bekerja untuk mendapatkan uang sebagai tambahan untuk biaya kebutuhan sehari-harinya.

“Nek, kalau monyetnya masih ada disana bagaimana?” (Tiba-tiba Manda kelihatan cemas)

“Jangan takut nak, mudah-mudahan monyetnya tidak mengganggu kita, karena kita kan tidak mengganggunya.” (Nenek berusaha menenangkan Amanda).

Manda terdiam. Dia sebenarnya tidak takut, tapi dia hanya mengkhawatirkan neneknya. Dia sangat menyayangi neneknya. Karena itu, dia tidak mau terjadi sesuatu pada neneknya. Setelah siap mereka pergi kehutan untuk mencari kayu bakar. Mereka berusaha mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya. Tak terasa keringat bercucuran membasahi pakaian mereka. Manda merasa tidak tega melihat neneknya yang sangat keletihan.

“Nek, istirahat dulu ya? Nenek kelihatan sangat capek sekali.”

“Tidak apa-apa nak, nenek masih kuat.” (Neneknya tetap ingin mengumpulkan kayu bakar.)

Setelah banyak mereka segera pulang dan langsung menjual kayu bakarnya.

“Alhamdulillah ya nak, kita dapat rejeki banyak dari Allah hari ini.” (Neneknya kelihatan sangat senang).

“Iya, Alhamdulillah nek, jadi sisanya bisa disimpan.”

Dalam perjalanan pulang mereka bertemu dengan pengemis yang kelihatan kelaparan. Dan Manda memberikan uang untuk pengemis tersebut membeli makanan, padahal mereka sendiri belum makan. Dari kecil neneknya telah mengajarkannya untuk berbagi dengan orang lain, walaupun dalam keadaan serba kekurangan. Karena kata neneknya, tidak ada orang yang sedekah jadi kelaparan. Akhirnya tidak terasa mereka sampai di rumahnya dan beristirahat.

Penulis: Neni Harti
(Guru, Mengajar di Sambas)
Sumber: http://www.borneotribune.com/citizen-jurnalism/amanda-gadis-pemberani.html
Sabtu, 9 Juli 2011 10:34 Neni Harti